UNPLUGGED

Tampilkan postingan dengan label Bacaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bacaan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 Mei 2011

Leher Kambing si Miskin

Leher Kambing si Miskin

Sukses kampanye tauhid Rasululiah terutarna karena mengandalkan uswatun khasanah: teladan hidup yang bersih dan konsisten. Tak banyak omong. Mulut beliau Terpelihara. Beda dengan hobi kita sekarang.
Memang, asyiknya Nabi utusan Tuhan terakhir, Muhammad Saw., ini bukan hanya karena beliau itu manusia lumrah raja, aba ahadin min-kum (sebagaimana bapak anak-anak pada umumnya). Bukan karena karakter kerasulan beliau serius mengandalkan mukjizat atau kasekten yang aneh-aneh. Namun yang paling mengasyikkan adalah bahwa putra Abdullah ini buta huruf dan mernilih hidup melarat.
Pada suatu hari datang bertamu kepada beliau seorang anak yang menyampaikan pesan ibunya agar Nabi memberikan sesuatu kepadanya. Nabi berkata, "Hari ini kami serumah tak punya apa-apa." Si anak ngeyel, "Kata ibu, kalau tak punya apa-apa, mohon Nabi menanggalkan baju dan memberikan kepada kami."
Muhammad pun menanggalkan bajunya, memberikannya, kemudian duduk dalam rumah, kedinginan dan agak menyesal. Allah segera kirim Jibril untuk memuji namun juga mengkritik Muhammad, "Jangan mengalungkan kedua tanganmu di leher, namun juga jangan mengulurkan tangan terlalu panjang."
Artinya, manusia tak boleh pelit. Tapi dalam bersedekah juga harus tetap rasional dan realistis. Sakmadya, kata orang Jawa.
Di saat lain Nabi yang anggun pendiam ini tampak buncit perutnya tatkala sembahyang di masjid, Sayyid Umar bin Khaththab memperhatikan dan menelitinya dengan. seksama. Akhirnya ketahuan bahwa beliau sedang kelaparan, sehingga diambilnya sebongkah batu, diikatkannya di perut, lantas ditutupi gamis. Umar belingsatan mencarikan inakanan untuk beliau.
Ternyata pilihan untuk melarat, asal jangan sampai fagiy, absah juga. Manusia berhak untuk kaya, tapi berhak pula untuk miskin. Muhammad ini contoh yang paling 'gawat' dalam sejarah dalam soal keberhasilan ekonomi, bahkan puasa kesejahteraan atau apalagi kemewahan sedemikian rupa. Kaum orientalis maupun kita-kita sampai sekarang jarang menyebut-nyebut betapa pentingnya etos satu ini untuk mempersyaratkan mutu kepemimpinan seseorang atau masyarakatnya.
Muhammad penguasa jazirah Arab, namun menolak untuk menjadi penguasa. Sebab ia adalah pemimpin.

Penguasa dan pemimpin adalah dua rnakhluk dan dua soal yang sama sekali berbeda. Penguasa memanage kekuasaan dirinya atas orang banyak, sedangkan pemimpin memanage cinta dan sistem penyejahteraan.
Ketika itu Muhammad sanggup memperoleh apa saja: dunia sudah digenggamnya. Ia sudah memiliki segala persyaratan untuk duduk di singgasana dan menikmati segala-galanya: jaringan, akar, geniusitas, ketrampilan manajemen, kependekaran fisik, atau apa saja yang harus dirriliki oleh seorang raja.
Namun Beliau ogah jadi raja. Raja itu malik.
'Malik' itu sifat Tuhan. Beliau memilih term Khalifah dan itu sama dengan fungsi setiap manusia, meskipun Allah memuliakannya dengan status nabi dan rasul. Muhammad makan hanya karena lapar dan berhenti makan sebelum kenyang. Beda dengan kita yang terus lapar dalam keadaan kekenyangan. Muhammad bersedia tidur beralaskan daun aren ketika pulang larut malam dan sungkan membangunkan Aisyah.
Muhammad punya pendahulu nenek-moyang yang bernama raja Sulaiman putra Daud. Allah menawarinya apakah mau menjadi raja dan kaya-raya seperti Sulaiman. Beliau menolak. Supaya masuk syurga duluan, beda dengan Sulaiman yang mendapat jatah terakhir sesudah semua nabi.
Apakah ia, Muhammad itu, seorang masochis-romantik? Seseorang yang sok, anti materi dan cengeng?

Bukankah Allah membuka pintu lebar-lebar, "Kuhamparkah bumi dan langit dan semua isinya. Makan dan minumlah, asal jangan berlebih-lebihan...."? Kenapa Muhammad memilih 'kekurangan' setidak-tidaknya menurut tolok ukur kita sekarang?
Memang kebanyakan kita sekarang jauh lebih kaya dibanding Mohammad. Bahkan 30 juta penduduk Indonesia yang kabarnya masih di bawah garis kemiskinan, belum tentu lebih parah keadaannya dibanding Muhammad. Betapa mungkin, seorang nabi, yang menurut logika moral seolah-olah berhak atas separo jazirah Arab beserta tambang-tambangnya: ketika wafat, malah masih punya hutang beberapa kilogram gandum kepada tetangganya seorang Yahudi? Kita yang satpam atau tukang ojek pun mungkin lebih baik dari itu keadaan ekonominya.
Namun jangankan Muhammad. Sedangkan kepala suku Ammatoa di Kajang, Bulukumba, Sulawesi Selatan, kepala suku Boti, Soe, Nusa Tenggara Timur pun tahu dan konsisten bagaimana berlaku sebagai pemimpin. Ia tak bersedia menerima sesuap pun dari rakyat. "Kalau saya menerima sesuatu dari rakyat saya, mereka berhak meniru saya untuk meminta-minta" katanya, "saya harus mencontohkan bagaimana bertariggungjawab kepada diri sendiri. Harus mencari makan sendiri, maka dari piling yang saya buat sendiri
dan minum dengan gelas yang juga saya buat sendiri...."
Di mata kita dan cara berpikir kita sekarang, Muhammad dan Amatoa adalah pemimpin yang tolol. Mereka tidak tahu mumpung, tak tahu bagaimana posisi, jabatan, kekuasaan dan peluang.
Logika dan moralitas Muhammad terbalik bagi kita. Sebelurn menjadi nabi dan pemimpin, Muhammad membuktikan dulu perilaku yang terpercaya (al-amin), menjadi sales yang jujur dan merijaga setiap ucapannya. Kemudian sesudah jadi nabi malah berhenti berdagang. Padahal 'mestinya' menurut gaya hidup kita yang maju dan modernsesudah tercapai menjadi penguasa itulah justru peluang amat luas untuk menggunungkan omset dagang. Semakin tinggi kekuasaan di jalur birokrasi semakin banyak kesempatan fasilitas (dana, kemudahan-kemudahan, dominasi).
Tapi rupa-rupanya "perniagaan" Muhammad mernang lain. Ketika beliau diberi hadiah seekor kambing, lantas disembelih dan dibagi-bagikan ke seluruh tetangganya.
"Sudah habis semua, ya Rasul," kata Aisyah, "Yang tersisa buat kita tinggal leher kambing itu"..
"Tidak, Aisyah," sahut Nabi, "Yang tersisa menjadi milik kita adalah seluruhnya kecuali lehernya."
Tentu ini diketawain oleh ideolog konsep kepemilikan.

(Emha Ainun Nadjib/"Gelandangan Di Kamping Sendiri"/ Pustaka Pelajar/1995/PadhangmBulanNetDok)

Rabu, 18 Mei 2011

Peringatan dari Pembantu Rumahtangga

Peringatan dari Pembantu Rumahtangga

SEORANG pembantu rumahtangga dari Gang Bayi, RT-1/ RW-3 Desa Gogorantai - GPR - Kediri, Jawa Timur bersurat kepada saya "untuk mengurangi beban saya sebagai anak yang tersisih dari pergaulan dengan teman-teman seusia saya, karena rendahnya martabat saya sebagai pembantu rumahtangga", katanya.

Ia menulis bahwa kemanapun ia pergi, di manapun ia duduk, orang-orang di sekelilingnya memandang rendah, menganggap saya tak ada harga di mata mereka. "Orang-orang yang terhormat dan kaya itu hanya punya satu hal untuk saya, yaitu perintah. Mereka menindas dan memeras orang lemah, hanya mulutnya saja yang manis. Padahal kalau dilihat dari segi pengetahuan, tentu juragan lebih punya kasih sayang kepada sesama manusia dibanding yang dimiliki orang bodoh macam saya".

Kita memperoleh dua pelajaran ilmu sosial dan psikologi dari kalimatnya itu.

Pertama, bahwa masyarakat kita yang sudah modern dan maju, sudah melewati PJPT-1, masih menganggap rendah manusia hanya karena ia berstatus sebagai pembantu rumah-tangga.

Kedua, ternyata tingginya tingkat pendidikan dan luasnya ilmu seseorang, tidak membuat kasih sayang sosialnya meningkat.
Pada pandangan saya, yang pertama itu ironis, sedangkan yang kedua sesat.
Selanjutnya pembantu rumahtangga kita itu mengatakan, "Juragan saya jelas orang yang beragama, sehingga tentunya ia berkasih sayang dan suka menolong sesama manusia, terutama yang lemah dan miskin. Tapi kenyataannya juragan tidak demikian.
Orang miskin hanya dijadikan sarana untuk memenuhi kebutuhannya".
Ia menulis, juragannya tidak takut kepada Allah. Hidupnya hanya mengunggulkan harta, kecantikan dan kemewahan saja. Apakah di akherat nanti semua bisa menolongnya?
Kalau mereka tahu itu kenapa mereka melanggarnya?
"Pembantu tidak dapat tanda jasa, tanpa balasan kasih sayang, padahal jelas jam tiga pagipun ia selalu siap diperintah. Pembantu hanya wajib dimarahi, diperintah, diancam, dituduh semaunya, tidak boleh membantah, tidak boleh menjawab satu katapun meskipun dalam posisi yang benar.
Sangat sedih hati saya, kalau posisi benar tapi dituduh salah".
Kita peroleh lagi dua pelajaran. Pertama ilmu agama, terutama masalah akhlaq.
Dan kedua, ilmu politik dan kekuasaan.
Dan empat pelajaran itu lahir tidak dari perpustakaan, referensi atau buku-buku, melainkan bersumber dari pengalaman otentik, dari keringat dan airmata realitas, dari nurani yang jujur dan pikiran yang jernih.
Jadi, itu ilmu sejati. Mutu dan pahalanya sepuluh kali lipat dibanding dosen yang mentransfer kalimat-kalimat dari buku ke diktat para mahasiswanya.
Jadi, apakah ia bodoh? Apakah ia rendah? Apakah ia lebih bodoh, lebih rendah, lebih tidak punya harga dibanding kita serta juragannya?
Ia mengumpamakan pembantu rumahtangga itu seperti binatang yang tidak punya puser. "Kalau sudah begitu saya hanya bisa menangis. Ya Alloh, berilah aku pekerjaan, sehingga aku bisa meringankan beban Bapak dan Ibuku", katanya lagi.
Ia kemudian menuding saya. "Apakah Cak Nun juga akan berlaku demikian? Apakah Cak Nun juga akan memandang rendah saya? Apakah surat saya ini dibaca oleh sekretaris Cak Nun? Kalau begitu apa nanti tidak dibuang ke tong sampah? Cak Nun, kenapa saya tidak diberi kelebihan seperti Pak Habibie atau Susi Susanti sehingga saya harus menerima hal yang seperti ini? Tapi kalau saya melihat anak yang cacat, saya menangis.
Betapa adilnya Tuhan...".*****
Emha Ainun Nadjib/1993/PadhangmBulanNetDok)

Syair Tukang Bakso

Syair Tukang Bakso

Sebuah pengajian yang amat khusyuk di sebuah masjid kaum terpelajar, malam itu, mendadak terganggu oleh suara dari seorang tukang bakso yang membunyikan piring dengan sendoknya.

Pak Ustad sedang menerangkan makna khauf, tapi bunyi ting-ting-ting-ting yang berulang-ulang itu sungguh mengganggu konsentrasi anak-anak muda calon ulil albab yang pikirannya sedang bekerja keras.

"Apakah ia berpikir bahwa kita berkumpul di masjid ini untuk berpesta bakso!" gerutu seseorang.

"Bukan sekali dua kali ini dia mengacau!" tambah lainnya, dan disambung - "Ya, ya, betul!"

"Jangan marah, ikhwan," seseorang berusaha meredakan kegelisahan, "ia sekedar mencari makan ..."

"Ia tak punya imajinasi terhadap apa yang kita lakukan!" potong seseorang yang lain lagi.

"Jangan-jangan sengaja ia berbuat begitu! Jangan-jangan ia minan-nashara!" sebuah suara keras.

Tapi sebelum takmir masjid bertindak sesuatu, terdengar suara Pak Ustadz juga mengeras: "Khauf, rasa takut, ada beribu-ribu maknanya. Manusia belum akan mencapai khauf ilallah selama ia masih takut kepada hal-hal kecil dalam hidupnya. Allah itu Mahabesar, maka barangsiapa takut hanya kepadaNya, yang lain-lain menjadi kecil adanya."

"Tak usah menghitung dulu ketakutan terhadap kekuasaan sebuah rezim atau peluru militerisme politik. Cobalah berhitung dulu dengan tukang bakso.
Beranikah Anda semua, kaum terpelajar yang tinggi derajatnya di mata masyarakat, beranikah Anda menjadi tukang bakso? Anda tidak takut menjadi sarjana, memperoleh pekerjaan dengan gaji besar, memasuki rumah tangga dengan rumah dan mobil yang bergengsi: tapi tidak takutkah Anda untuk
menjadi tukang bakso? Yakni kalau pada suatu saat kelak pada Anda tak ada jalan lain dalam hidup ini kecuali menjadi tukang bakso? Cobalah wawancarai hati Anda sekarang ini, takutkah atau tidak?"

"Ingatlah bahwa tak seorang tukang bakso pun pernah takut menjadi tukang bakso. Apakah Anda merasa lebih pemberani dibanding tukang bakso? Karena pasti para tukang bakso memiliki keberanian juga untuk menjadi sarjana dan orang besar seperti Anda semua."

Suasana menjadi senyap. Suara ting-ting-ting-ting dari jalan di sisi halaman masjid menusuk-nusuk hati para peserta pengajian.

"Kita memerlukan baca istighfar lebih dari seribu kali dalam sehari," Pak Ustadz melanjutkan, "karena kita masih tergolong orang-orang yang ditawan oleh rasa takut terhadap apa yang kita anggap derajat rendah, takut tak memperoleh pekerjaan di sebuah kantor, takut miskin, takut tak punya jabatan, takut tak bisa menghibur isri dan mertua, dan kelak takut dipecat, takut tak naik pangkat ... masya allah, sungguh kita masih termasuk golongan orang-orang yang belum sanggup menomorsatukan Allah!"

(Emha Ainun Nadjib/1987/PadhangmBulanNetDok)

ANTARA MASJIDIL HARAM DAN MASJIDIL AQSA

ANTARA MASJIDIL HARAM DAN MASJIDIL AQSA

Pangkal Dan Ujung Segala Peradaban

Mengapa Tuhan menurunkan hampir semua agama itu di sekitar jazirah Arab? Mungkin tuhan punya alasan, bahwa budaya Arab itu menakutkan, sehingga disana itu merupakan letak setan yang paling ganas dan juga malaikat yang paling suci. Maka acuan pertama adalah Subhaanalladzii asyroo bi 'abdihii laillamminal masjidil haraami ilal masjidil aqshalladzii baaraknaa haulahu linuriyahu min aayaatina innahu huwassamii'ul bashiiru, atas dasar ini bisa dikaji secara antropologi kosmologis, bahwa antara Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha ada satu lingkaran geografis yang oleh Allah dikhususkan untuk menurunkan segala macam puncak-puncak atau sumber-sumber barokah-Nya. Maka segala macam ilmu, eksak dan macam-macam tingkat yang paling arif dari ilmu sosial berasal dari sekitar lingkaran antara Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha. Bahkan kalau kita mencari sumber-sumber dan cakrawala musik, juga akan ditemukan juga.

Budaya Arab kalau dilihat di dalam Al-Qur'an, memperlihatkan adanya dua kutub yang luar biasa, dari api sampai salju, dari yanag paling panas sampai yang paling sejuk, dari yang paling buruk sampai yang paling baik. Bahkan peristiwa Musa AS, dengan Dzun-Nun yang sekarang terjadi di Indonesia yakni majmual bahraini, dimana ketika Nabi Musa lewat di pertemuan antara dua arus laut itu ikan yang mati tiba-tiba melompat menjadi hidup. Maka kalau ini diletakkan dalam konteks ke-Indonesiaan, bahwa peristiwa World Trade Center dan Pentagon di AS itu adalah saat-saat yang paling kreatif bagi bangsa Indonesia, pada saat inilah kalau bangsa Indonesia murni, yakin, dan tawakal, bersungguh-sungguh, akan mendapat hidayah lebih dari sebelum dan sesudahnya.

Sekarang ini tanah genting atau majmual bahraini, "laut sedang bertemu", di Indonesia dan tidak ada jalan keluar, tapi pada saat itu ikan yang sudah mati akan hidup kembali. Bangsa Indonesia justru mengalami hidupnya sekarang ini, masalahnya banyak orang yang tidak tahu mana yang sebenarnya hidup dan mana yang sebenarnya sudah mati.
Anda menyangka Gus Dur hidup padahal ia sebenarnya sudah mati.
Anda menyangka Amien Rais hidup, padahal ia juga sudah mati, dan orang seluruh dunia menyangka peristiwa di AS itu teroris padahal sesungguhnya itu adalah gerilyawan, bisa jadi sebuah perjuangan untuk melepas dari ketidakberdayaannya menjadi berdaya. Mati yang dimaksud , adalah mati dalam kriteria Allah, bukan mati di dalam kriteria manusia (materialisme), sebab kalau kita orang Islam, tentu tidak akan memakai cara pandang materialisme, sehingga banyaknya korban dalam tragedi di AS, dan pembajaknya itu kita hargai sebagai mujahid, dan setiap mujahid tidak ada yang mati menurut Allah.

Dan majmual bahraini itu juga terjadi, di antara Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha, maka titik antara keduanya kita lingkari, karena di situlah letak segala sesuatu dan Allah tidak memberi barokah ke tempat lain. Maka tidak ada nabi lahir di Jombang, Jogja, atau Ngawi, dll.
Tidak ada musik dahsyat yang tingkat kecanggihannya melebihi bainal masjidil haram minal masjidil aqsha. Anda boleh lihat musik Queen, Led zeplin, atau Edy Van de Bergh, bahkan Bethoven, sebenarnya ia tinggal masuk Islam, karena dipuncak eksplorasi musiknya ia harus lari ke Timur Tengah untuk menemukan puncak-puncak estetika, hal ini disebabkan oleh "alladzii baarokna haulahu linuriyahu min aayaatina", walaupun di antara dua kutub ini ada iblis yang paling ganas dan malaikat yang paling suci.
Sehingga mengapa nabi-nabi diturunkan di tempat itu? Karena kalau nabi diturunkan di tanah Jawa, uji cobanya terus bagaimana? Padahal uji coba sebuah agama itu harus di antara kedua kutub itu, harus dalam budaya Arab, dalam arti Timur Tengah. Maka Rasululullah, Nabi Adam, Musa, dll,lahir di Arab, dan tidak mungkin lahir di Ja-tim, Ja-Teng, sebab orang Jawa itu sesungguhnya kalau mau memakai hatinya, pikirannya sudah sangat Islam, tidak perlu ada firman sudah cukup. Cuma agar lebih sempurna dibutuhkan sholat, puasa, dll.
Tetapi sesungguhnya hatinya sudah cukup ber-sholat, dan berpuasa.

Dan orang Arab, ini bisa dilihat pada zaman Rasulullah : Ada seorang budak yang dibeli, dibebaskan oleh Rasulullah, dan sangking gembiranya ia naik ke atas bukit dan berteriak : "Allahu yarham Muhammad, Allahu yarhaamni, wala yarham ahad", bayangkan ia sudah dekat sekali dengan Rasulullah dan Allah, masih curang juga sifatnya, sebab ia berkata : " Ya Allah cintailah aku, cintailah Muhammad dan jangan cintai siapapun yang lain," inilah type orang Arab, di dalam doanyapun memproduk klaim soal Allah dan Rasulullah.
Produk seperti ini kemudian muncul di dalam kepedihaan-kepedihan sejarah pasca Rasulullah yang luar biasa kepedihannya. Bagaimana mungkin Rasulullah yang agung , yang badannya tidak tinggi, tidak rendah, yang alisnya melipis, yang kulitnya kemerah-merahan putih, yang hidungnya mancung,, yang selalu tersenyum, yang menambal sepatunya sendiri, yang tidur di atas pelepah daun kurma, ketika Aisyah tidak bangun untuk membukakan pintu pada tengah malam, orang yang begitu sederhana, tetapi ditaati oleh seluruh Jazirah Arab dan ditaati oleh begitu banyak manusia di dunia, sampai hari ini, sampai dinyanyi-nyanyikan dengan terbang, dan tidak seorangpun di dunia yang dicintai oleh umat manusia di dunia yang cara mencintai seperti itu, melebihi Muhammad Saw.
Seperti itu saja, ketika Rasulullah meninggal jenazahnya terbengkelai sampai tiga hari, tidak ada yang mengurusi, kecuali Siti Fatimah, Ali bin Abi Thalib, Aisyah, dan Fadhil bin Abas, dan ketika itu Sayidina Abu Bakar ,Umar, dan Utsman, tokoh-tokoh Anshor, tokoh-tokoh Muhajirin semua menyibukkan diri berkumpul di Saqifa, mereka bertarung dan berdebat untuk merundingkan dan menentukan, siapa khalifah sesudah Rasulullah. Orang yang begitu hebat, orang yang begitu membangun demokrasi kemanusiaan yang sangat tinggi nilainya, dan sangat dihormati oleh para sahabatnya, tetapi pada hari meninggalnya para sahabatnya melupakan jenazah beliau. Maka akhirnya hanya dikuburkan oleh lima orang, selesai menguburkan di tengah malam, pasukannya Umar datang ke rumah Ali bin Abi Thalib, agar menanda tangani pengangkatan Abu Bakar as Shidiq sebagai khalifah. Inilah budaya Arab, maka inilah alasan sehingga Islam diturunkan di tanah Arab.
Maka budaya Arab itu harus kita pahami betul, orang yang paling gagah berani dan patriotis adalah orang Arab, tetapi orang yang paling brutal juga orang Arab. Tetapi jangan lupa orang yang paling militan juga orang Arab. Sehingga budaya Arab ini, justru adalah suatu kutub yang ekstrim, supaya Islam muncul keindahannya, kalau Islam diturunkan di antropologi suku yang lain, pasti tidak begitu indah.

(13 oktober 2001)(Dari berbagai sumber : Paket Infak Karangkajen, Yk, Ceramah di Fak.
Sastra UGM, Yk)

(Emha AInun Nadjib/PadhangmBualnNetDok)

Makhluk Dari Planet Mana Israel Ini

Makhluk Dari Planet Mana Israel Ini

Makhluk dari mana Israel ini, adigang adigung adiguna, boleh melakukan apa saja, pembunuhan massal, penggusuran besar-besaran, pemberangusan dan pemusnahan atas umat manusia dan nilai-nilai kemanusiaan, kapan saja dia mau, tanpa sanksi yang memadai dari pihak manapun di muka bumi.

Nama kelompok kebangsaannya disebut paling banyak di Alquran, bahkan dipakai sebagai nama Surah. Beberapa identifikator sejarah penciptaan oleh Tuhan menyimpulkan yang disebut ‘’Dajjal’’, perusak dunia kelas wahid, berasal dari suku Yahudi ini dan berambut keriting. Tapi orang tidak benar-benar berani mengutuknya karena mereka keturunan Nabi Besar yang amat kita takdzimi, yakni Ibrahim AS, entah dari beliau Ismail atau Ishaq. Dan kemah ajaran beliau, millah Ibrahim, adalah induk segala ajaran, teologi monotheisme, nama beliau kita sebut pada rakaat salat kita semulia kekasih Allah, Muhammad SAW junjungan kita semua.

Mayoritas aset moneter global dan segala jenis modal perekonomian, bank dunia dan institusi-institusi keuangan primer dunia dipegang oleh turunan beliau dan strategi pengelolaannya sampai ke Kongres Amerika Serikat berada di genggaman turunan yang lain dari beliau juga. Sejumlah futurolog ekonomi menganjurkan anak-anak kecil sekarang mulailah diajari berbahasa Arab karena akan menjadi bahasa utama dunia: pergilah cari kerja ke Negeri koalisi 16 Pangeran di Jazirah Arab. Bahasa Ibrani tak perlu dipelajari, karena para fungsionaris dari Israel mungkin lebih pandai berbahasa Arab dibanding Raja Saudi dan lebih mlipis berbahasa Indonesia dibanding orang Indonesia.

***

Anda tidak akan paham menemukan peta Indonesia Raya dijadikan center display di sebuah web Israel dan Amerika Serikat. Juga agak miris melihat tanda warna merah pada daerah tertentu dari Nusantara. Di Belanda, November 2008 saya ngobrol panjang dengan pemimpin Yahudi internasional Rabi Awraham Suttendorp yang sangat mengenal Indonesia lebih detail dari kebanyakan orang Indonesia sendiri, sebagaimana di kantor Perdana Menteri Israel Anda bisa dolan ke sana dan melirik ruangan khusus yang berisi segala macam data tentang Indonesia segala bidang yang di-update setiap pekan.

Israel juga punya situs berbahasa Indonesia. Kepada Rabi saya tanyakan kenapa disain tengah atas atau puncak mahkota keagamaan yang beliau pakai memimpin peribadatan di Synagoge sama dengan disain bagian atas rumah-rumah Pulau Jawa bagian utara. Kenapa ibukota Israel tidak Tel Aviv saja tapi Java Tel Aviv. Kenapa kantor-kantor Yahudi di berbagai negara pakai kata Java. Apa pula hubungan dua konsonan yang sama itu: J dan W. Jewish dan Jawa. Mana yang lebih tua: Jewish atau Jawa. Kalau Sampeyan keturunan Nabi Ibrahim, apakah nenek moyang kami manusia Nusantara yang seluruhnya berpuluh abad yang lalu disebut Jawa atau Jawi adalah ‘’keponakan’’-nya Ibrahim ataukah lebih tua dari Ibrahim.

Dari dunia Jawa dimunculkan sedikit informasi bahwa beberapa waktu yang akan datang akan terjadi hasil ‘’taruhan’’ antara Yahudi (Jewish) dengan Jawa (bukan Jawa non-Sunda non-Batak dalam pengertian 100 tahun terakhir): Kalau Yahudi yang memenangkan persaingan memimpin dunia, maka mereka akan ajak Jawa menjadi rekanan kerja. Kalau Jawa yang ‘’juara’’ mereka akan berguru kepada Jawa.

***

Apa-apaan itu? Dari bidang ilmu dan teknologi diberitakan bahwa revolusi invensi atau penemuan-penemuan baru akan mengubah geo-ekonomi, geo-politik dan kebudayaan dunia dari Cina, Brazil, Jepang dan Indonesia.

Bangsa Indonesia memasuki 2009 sebagai ‘’orang lugu’’ dan tidak perduli pada dirinya sendiri karena habis waktu dan enerjinya untuk urusan kotak suara. Padahal sejumlah makhluk Tuhan di luar manusia yang ditugasi menemani pertumbuhan peradaban ummat manusia sudah menyiapkan dibukanya sejumlah penemuan di bidang telekomunikasi, energi dan pertanian.

Sengaja saya tuturkan kepada sidang pembaca hal-hal yang ‘’tidak-tidak’’. Nanti kita akan sampai ke yang lebih ‘’tidak-tidak’’ lagi: Lemorian, banjir Nuh, Parikesit, terciptanya pulau-pulau Kalimantan, Sumatra, Sulawesi dst. Dan akan saya sambung pada tulisan berikutnya pekan depan.

Tapi kita jangan bilang tidak masuk akal dulu sebelum kita bisa menjawab seberapa masuk akal kelakuan Israel sekarang ini: Dengan lancar dan mulus-mulus saja menghajar Palestina di depan rumah saudara-saudaranya sendiri sesama bangsa Arab, di depan hidung PBB.

Berdasarkan sejumlah ‘’khayalan’’ saya di atas, ucapkan: ‘’Ayo, Israel! Kalau berani jangan hanya berantem sama anak kemarin sore. Datang ke Indonesia, sini kamu, carok kita!’’.
(Emha Ainun Nadjib/Riau Pos/09 Januari 2009/PadhangmBulanNetDok)

Pesta Pemimpin 2009

Pesta Pemimpin 2009

Puji Tuhan aku ditakdirkan jadi rakyat Indonesia. Sedap nian dipresideni Bung Karno, Pak Harto, Pak Habibie, Gus Dur, Bu Mega, dan Pak Sus. Aku syukuri dan nikmati sedap yang itu ataupun sedap yang lain dari Ratna Sarumpaet, Rizal Mallarangeng, Sultan HB X, Fajrul Rahman, Wiranto, Marwah Daud, Prabowo, Sutiyoso, dan sekian lagi… wahai Tuhan, panjangkan umurku agar kualami sedapnya menjadi rakyat beliau-beliau secara bergiliran.

Kita memiliki stok pemimpin yang berlimpah-limpah. Jumlah di atas 30 kontestan Pemilu 2009 mencerminkan betapa banyak dan canggih mesin kepemimpinan yang kita miliki. Sudah enam presiden memberiku kenikmatan, dengan keistimewaan, kewibawaan, dan keunikannya masing-masing. Tentu saja juga dengan satu-dua kekurangan, tapi tidak terlalu signifikan.

Dan rasanya, 2009 mempersembahkan kepada kita sedap yang lain lagi dari pemimpin baru. Kalaupun umpama tetap yang lama, pasti terasa baru: bagaikan Idul Fitri, baju boleh yang itu-itu juga, tapi pandangan kita terhadap baju itu "refreshed".

Kita pernah punya pemimpin yang sejak masa kanak-kanak mengalami pengasingan di sebuah dusun pelosok di dekat perbukitan. Ia menggembalakan kambing, tanpa teman-temannya sesama penyabit rumput pernah mengerti siapa dia dan dari mana asal usulnya, sampai kelak ia tampil sebagai orang nomor satu. Dengan sabit (arit, celurit) di tangannya, sudah tampak bakatnya sebagai strategi ulung. Hampir tak pernah ia menyabit rumput, karena tiap hari ia nantang teman temannya untuk lempar tepat sabit di batang pohon. Siapa yang lemparannya paling akurat mendekati titik sasaran mendapat bagian seperempat rumput hasil ngarit setiap peserta kontes. Dan ia tak pernah kalah. Selalu pulang ke kambingnya membawa rumput tanpa capek-capek menyabit.

Menjelang usia remaja, ia pindah wilayah dan kerja di kantor semacam bank pengkreditan untuk rakyat. Kemudian ia belajar berbaris dan menembak. Tetapi ilmu utamanya untuk menjadi pemimpin bukan dari sekolah dan pengalaman kerja, melainkan dari pencerapan ilmu nenek moyangnya. Yakni "Ilmu Katuranggan", metode untuk mengenali, mengidentifikasi, menyelami, memetakan, dan memolakan watak-watak manusia. Digabung dengan “Ilmu Pranotomongso”, pandangan dan analisis tentang musim, segala macam musim yang berlaku dalam kehidupan alam dan manusia. Ia memimpin negara seperti pawang pengendali hujan, pengatur kemarau, penjinak angin, dingin, dan panas, siang dan malam.

Itu sekadar snapshot kebesaran salah satu pemimpin kita. Enam buku emas tebal untuk enam pemimpin tertinggi. Aku mencintai mereka semua. Semua rakyat pun mencintai mereka, dengan macam-macam cara. Ada yang memakai idiom gelas. Ada pemimpin gelasnya tak pernah kosong, meskipun selalu dituang-tuangkan menjadi gagasan besar, mimpi besar, dan pernyataan besar yang membahana ke seantero bumi. Ada pemimpin yang gelasnya juga penuh, tapi dijaga jangan sampai tumpah: gelas itu kalau ditambahi air akan tumpah, kalau diambil bisa mengurangi citra kepenuhannya.

Ada lainnya yang gelasnya baru diminum sedikit: mendadak hilang gelas itu. Lainnya lagi gelasnya bolong, saking jujur dan ikhlasnya, sehingga minuman apa pun dan seberapa pun saja dituangkan ke dalamnya akan langsung habis karena bolong bawahnya. Sementara itu, ada yang sampai akhir kepemimpinannya tak ketahuan gelasnya: bukan karena beliau tak mengerti gelas itu apa, melainkan karena sangat ketat menyembunyikan gelasnya.

Mahakaya Tuhan dengan ragam rupa ciptaannya. Ada sebagian rakyat yang mencari watak pemimpinnya melalui cara mengidentifikasi mereka dengan para pemimpin lama: Majapahit, Demak, Khalifah Empat, para rasul dan nabi, atau mengambil simbolisme dari dunia pewayangan dengan menyebut tokoh macam-macam: Bima, Arjuna, Gareng, Bagong, Limbuk, raksasa Kumbokarno, dan sebagainya.

Semuanya itu figur baik. Bima jujur gagah perkasa. Arjuna sakti pendiam, Gareng filsuf guru bangsa, Limbuk pengabdi yang setia tapi kritis, Kumbokarno raksasa besar pencinta dan pembela tanah air. Ada yang melalui jurusan Joyoboyo Syekh Ali Syamsu Zen hingga Ronggowarsito: pemimpin 2009 ini mesti dihitung berdasarkan parameter kualitas “satrio pinandhito sinisihan wahyu”.

Yang memimpin sekarang adalah Satrio Pambuko Gerbang, pembuka paradigma perubahan ke arah zaman baru. Sesudah itu, pemimpin sejati muncul dengan tiga syarat berkualitas tinggi. Ia harus "satrio": cakap, ulet, pejuang, prigel, profesional, menguasai multi-masalah, manajer pembangunan, dan panglima solusi. Tapi sekaligus harus lebih tinggi dari itu: "pinandhito", tak terpesona oleh harta dan kedudukan, filosofi hidupnya matang mendalam, punya "wisdom", arif dan adil dalam kehidupan nyata, "spiritually grounded", berkadar pemimpin rohani, kaliber "begawan" atau "panembahan".

Itu belum cukup. Ia harus "sinisihan wahyu". Harus tampak indikator bahwa Tuhan turut aktif dalam Pemilu 2009, terlibat mempengaruhi aspirasi konstituen, ikut memilih presiden sehingga tak mungkin pilihan Tuhan dikalahkan. Dalam pandanganku, semua yang tampil dalam kontes pemimpin 2009 memenuhi syarat Pak Ronggo itu, tinggal Tuhan mempergilirkan siapa duluan. Syukur-syukur Tuhan kali ini tidak membiarkan rakyat Indonesia memilih pemimpinnya tanpa "informasi" dari-Nya.
(Emha Ainun Nadjib/GATRA/1 Januari 2009/PadhangmBulanNetDok

Tarekat Terjun Bebas dan Jamu Air Gamping

Tarekat Terjun Bebas dan Jamu Air Gamping

Waktu yang diminta oleh Saridin untuk mempersiapkan diri telah dipenuhi. Dan kini ia harus membuktikan diri. Semua santri, tentu saja juga Sunan Kudus, berkumpul di halaman masjid.
Dalam hati para santri sebenarnya Saridin setengah diremehkan. Tapi setengah yang lain memendam kekhawatiran dan rasa penasaran jangan-jangan Saridin ternyata memang hebat.
Sebenarnya soalnya di sekitar suara, kefasihan dan kemampuan berlagu. Kaum santri berlomba-lomba melaksankan anjuran Allah Zayyinul Qur’ana bi ashwatikum---hiasilah quran dengan suaramu. Membaca syahadat pun mestiseindah mungkin.
Di pesantren Sunan Kudus hal ini termasuk diprioritaskan. Soalnya, ini manusia Jawa Tengah : lidah mereka Jawa medhok dan susah di bongkar. Kalau orang Jawa timur lebih luwes. Terutama orang Madura atau Bugis, kalau menyesuaikan diri dengan Qur’an, lidah mereka lincah banget.
Lha, siapa tahu Saridin ini malah melagukan syahadat dengan laras slendro atau pelog jawa.
Tapi semuanya kemudian ternyata berlangsung di luar dugaan semua yang hadir, Tentu saja kecuali Sunan Kudus, yang menyaksikan semua kejadian dengan senyum-senyum ditahan.
Ketika tiba saatnya Saridin harus menjalani tes baca syahadat, ia berdiri tegap. Berkonsentrasi. Tangannya bersedekap di depan dada. Matanya menatap ke depan. Ia menarik nafas sangat panjang beberapa kali. Bibirnya umik-umik [komat-kamit] entah membaca aji-aji apa, atau itu mungkin latihan terakhir baca syahadat.
Kemudian semua santri terhenyak. Saridin melepas kedua tangannya. Mendadak ia berlari kencang. Menuju salah satu pohon kelapa, dan dipilih yang paling tinggi. Ia meloncat. Memanjat keatas dengan cepat, dengan kedua tangan dan kedua kakinya, tanpa perut atau dadanya menyentuh batang kelapa.
Para santri masih terkesima sampai ketika akhirnya Saridin tiba di bawah blarak-blarak [daun-daun kelapa kering] di puncak batang kelapa. Ia menyibak lebih naik lagi. Melewati gerumbulan bebuahan. Ia terus naik dan menginjakkan kaki ke tempat teratas. Kemudian tak disangka-sangka Saridin berteriakdan melompat tinggi melampaui pucuk kelapa , kemudian badannya terjatuh sangat cepat ke bumi.
Semua yang hadir berteriak. Banyak diantara mereka yang memalingkan muka, atau setidaknya menutupi wajah mereka dengan kedua telapak tangan.
Badan Saridin menimpa bumi. Ia terkapar. Tapi anehnya tidak ada bunyi gemuruduk sebagai seharusnya benda padat sebesar itu menimpa tanah. Sebagian santri spontan berlari menghampiri badan Saridin yang tergeletak. Mencoba menolongnya. Tapi ternyata itu tidak perlu.
Saridin membuka matanya. Wajahnya tetap kosong seperti tidak apa-apa. Dan akhirnya ia bangkit berdiri. Berjalan pelan-pelan ke arah Sunan Kudus. Membungkuk di hadapan beliau. Tak lazim mengucapkan sami’na wa atha’na---aku telah mendengarkan, dan aku telah mematuhi.
Gemparlah seluruh pesantren. Bahkan para penduduk disekitar datang berduyun-duyun. Berkumpul dalam ketidakmengertian dan kekaguman. Mereka saling bertanya dan bergumam satu sama lain, namun tidak menghasilkan pengertian apapun.
Akhirnya Sunan Kudus masuk masjid dan mengumpulkan seluruh santri, termasuk para penduduk yang datang, untuk berkumpul. Saridin didudukan di sisi Sunan. Saridin tidak menunjukkan gelagat apa-apa. Ia datar-datar aja.
“Apakah sukar bagi kalian memahami hal ini?” Sunan Kudus membuka pembicaraan sambil tetap tersenyum. “Saridin telah bersyahadat. Ia bukan membaca syahadat, melainkan bersyahadat. Kalau membaca syahadat, bisa dilakukan oleh bayi umur satu setengah tahun. Tapi bersyahadat hanya bisa dilakukan oleh manusia dewasa yang matang dan siap menjdai pejuang dari nilai-nilai yang diikrarkannya.”
Para santri mulai sedikit ngeh, tapi belum sadar benar.
“Membaca syahadat adalah mengatur dan mengendalikan lidah untuk mengeluarkan suara dan sejumlah kata-kata. Bersyahadat adalah keberanian membuktikan bahwa ia benar-benar meyakini apa yang disyahadatkan. Dan Saridin memilih salah satu jenis keberanian untuk mati demi menunjukkan keyakinannya, yaitu menjatuhkan diri dari puncak pohon kelapa.”
Di hadapan para santri, Sunan Kudus kemudian mewawancarai Saridin: “Katamu tidak takut badanmu hancur, sakit parah atau mati karena perbuatanmu itu?”
“Takut sekali, Sunan.”
“Kenapa kamu melakukannya?”
“Karena syahadat adalah mempersembahkan seluruh diri dan hidupku.”
“Kamu tidak menggunkan otakmu bahwa dengan menjatuhkan diri dari puncak pohon kelapa itu kamu bisa cacat atau meninggal?”
“Aku tahu persis itu, Sunan.”
“Kenapa kau langgar akal sehatmu?”
“Karena aku patuh kepada akal sehat yang lebih tinggi. Yakni bahwa aku mati atau tetap hidup itu semata-mata karena Allah menghendaki demikian, bukan karena aku jatuh dari pohon kelapa atau karena aku sedang tidur. Kalau Allah menghendaki aku mati, sekarang inipun tanpa sebab apa-apa yang nalar, aku bisa mendadak mati.”
“Bagaimana kalau sekarang aku beri kau minum jamu air gamping yang panas dan membakar tenggorokan dan perutmu?”
“Aku akan meminumnya demi kepatuhanku kepada guru yang aku percaya. Tapi kalau kemudian aku mati, itu bukan karena air gamping, melainkan karena Allah memang menghendaki aku mati.”
Sunan Kudus melanjutkan: Bagaimana kalau aku mengatakan bahwa tindakan yang kau pilih itu memang tidak membahayakan dirimu, insya Allah, tetapi bisa membahayakan orang lain?”
“Maksud Sunan?”
“Bagaimana kalau karena kagum kepadamu lantas kelak banyak santri menirumu dengan melakukan tarekat terjun bebas semacam yang kau lakukan?”
Kalau itu terjadi, yang membahaya-kan bukanlah aku, Sunan, melainkan kebodohan para peniru itu sendiri, “jawab Saridin, “setiap manusia memiliki latar belakang, sejarah, kondisi, situasi, irama dan metabolismenya sendiri-sendiri. Maka Tuhan melarang taqlid, peniruan yang buta. Setiap orang harus mandiri untuk memperhitungkan kalkulasi antara kondisi badannya dengan mentalnnya, dengan keyakinannya, dengan tempat ia berpijak, serta berbagai kemungkinan sunnatullah atau hukum alam permanen. Kadal jangan meniru kodok, gajah jangan memperkembangkan diri seperti ular, dan ikan tak usah ikut balapan kuda.”
“Orang memang tak akan menyebut-mu kadal, kuda atau kodok, melainkan bunglon. Apa katamu?”
“Kalau syarat untuk terhindar dari mati atau kelaparan bagi mereka adalah dengan menyebutku bunglon, aku mengikhlaskannya. Bahkan kalau Allah memang memerintahkanku agar menjadi bunglon, aku rela. Sebab diriku bukanlah bunglon, diriku adalah kepatuhanku kepada-Nya.
(Emha Ainun Nadjib/"Folklore Madura"/Progress/PadhangmBulanNetDok

DEMOKRASI TOLOL VERSI SARIDIN

DEMOKRASI TOLOL VERSI SARIDIN

Saridin bukan tidak sadar dan bukan tanpa perhitungan kenapa dia memilih nyantri ke pondoknya Sunan Kudus. Saridin itu tipe seorang murid yang cerdas dan mengerti apa yang dilakukannya.
Harap dimengerti murid itu bukan padanan kata dari siswa atau student, sebagaimana manusia zaman modern memaknainya secara tolol. Memang manusia dalam kebudayaan dan peradaban modern kerjanya selalu melawak. Mereka lucu, dan bahkan sangat lucu karena mereka sendiri tidak sadar bahwa mereka lucu.
Coba lihat saja. Di dunia modern ada yang namanya universitas . Wah gagahnya bukan main lembaga pendidikan tertinggi ini.
Penuh gengsi dan keangkuhan. Kalau sudah lulus darinya, orang di sebut "sarjana"
Padahal sesungguhnya Saridin membuktikan sendiri bahwa para pelaku lembaga pendidikan dunia modern ini ndagel atawa melawak. Mereka pura-pura bikin universitas adalah manusia universal .
Padahal nanti para sarjana keluaran universitas itu kualitas dan cakrawala pandangnya tak lebih dari manusia fakultif .
Anak-anak didik usianya sudah dewasa ini tetap saja kanak-kanak sampai tua, karena sudah bertahun-tahun di universitas masih saja terbuntu di kualitas fakultif atau bahkan jurusan.
Apa begitu itu namanya, kata Saridin, kalau bukan ndagel.
Kalau remaja-remaja itu berangkat ke universitas, ngakunya pergi kuliah. Istilah itu dari bahasa Arab: kulliyah. Artinya, suatu keberangkatan intelektual, mental, spiritual dan moral menuju taraf kosmopolitanisme.
Segi lawakannya menurut Saridin terletak pada kenyataan bahwa sebenarnya mereka bukan berangkat kuliah, melainkan berangkat juz'iyyah. Ya yang diterangkan di atas tadi: juz'iyyah itu artinya berangkat memahami sesuatu secara sektoral, secara fakultatif dan parsial.
Seandainya mereka bukan pelawak, tentu setiap keberangkatan juz'iyyah akan selalu pada akhirnya diorientasikan atau dikembalikan lagi ke spektrum kulliyah atau universalitas.
Tapi karena tradisi demikian tidak menjadi habitat utama budaya pendidikan manusia modern, maka hasilnya adalah kesempitan.
Umpamanya kalau mereka disodori pakaian oleh Saridin dan tanyakan kepada mereka "apa ini?" mereka paling menjawab "ini baju, " atau ini celana," ini cawet." Atau ini dasi."
Mereka tidak pernah menjawab-ini kain, ini benang," ini kapas" ini serat-serat," atau mungkin ini kerjasama antara alam ciptaan Tuhan dengan teknologi ciptaan manusia."
Pendeknya pada kesimpulan Saridin, jangkauan ilmu mereka atau dangkalnya kedalaman pengetahuan mereka itu hanya bisa diterangkan melalui dua kemungkinan acuan. Kalau tidak bodoh, ya itu: ndagel .
Kalau pembicaraan kita sampai pada soal "dasi" atau "sepatu" , yang merupakan ciri-ciri terpenting dari eksistensi manusia modern, lebih terasa lagi lawakannya. Kalau sudah mengingat itu, Saridin tersengguk-sengguk karena tawa dantangisnya menjadi satu keluar dari mulut dan matanya.
Dasi itu menurut pemahaman Saridin adalah benda yang benar-benar tidak bisa dipahami apa kegunaannya, kecuali untuk siap-siap kalau sewaktu-waktu pemakainya ingin kendat atau bunuh diri dengan carta menggantung diri atau menjerat leher.
Kebudayaan manusia modern selalu menjelaskan dasi dalam konteks sopan santun, kepribadian dikaitkan atau apalagi ditententukan oleh seutas kain yang dikaitkan menggelilingi leher.
Benar-benar sangat lucu. Saridin khawatir Tuhan sendiri bisa geleng-gelng kepala karena kelucuan dasi ini tingkatnya benar-benar rendah. Kepribadian itu maslah software, soal batin, mutu nilai yang rohaniah sifatnya. Kok dilawakkan melalui seutas dasi. Alangkah tidak bermutunya lawakan manusia modern.
Apalagi masalah sepatu. Pakailah sepatu, kata Saridin menirukan seseorang yang pernah didengarnya di abad 20, agar kakimu terlindung dari duri atau kerikil tajam."
Padahal para pemakai sepatu justru cenderung menolak untuk berjalan di jalanan. Mereka justru lebih sering melangkahkan kaki kelantai yang dipakai karpet tebal dan empuk.
Lantas seseorang melanjutkan, tapi sebelum pakai sepatu, pakailah dulu kaos kaki, untuk melindungi kakimu dari sepatu, agar tidak mlicet."
Di sinilah, menurut studi Saridin , puncak lawakannya. Orang yang disuruh pakai sepatu dan kaos kaki pasti
kebingungan, jadi sebenarnya sepatu ini melindungi kaki ataukah mengancam kaki, sehingga kaki harus dilapisi dengan kaos kaki?"

***
Oleh karena itu,sejak abad 16 Saridin sudah sadar untuk tak mau di ranjau oleh kebodohan yang canggih atau kepandaian yang ndagel versi kebudayaan modern. Maka ia mateg aji menjadi murid.
"Murid" itu kata subyek yang berasal dari kata kerja arada, yuridu, muridan. Artinya: seseorang yang berkendak. Ingat kata iradat Tuhan? Artinya kendak Tuhan.
Saridin menjdai muridnya Sunan Kudus karena ia sendiri yang berkehendak untuk itu. Juga ia sendiri yang berkehendak, atau menjadi subyek yang menghendaki segala macam yang menyangkut ilmu dan pengalaman hidup yang akan dialaminya dari Sang Sunan.
Dengan kata lain, sesungguhnya Saridin sendiri yang menyusun kurikulum kesantriannya. Itu namanya murid. Kalau seseorang datang ke pesantren atau sekolah lantas pasrah bongkokan dan mulutnya mengangga melulu menunggu apa saja terapan kurikulum yang telah disediakan, itu namanya murad . Artinya, orang yang kehendaki.
Memang sih pesantrennya Sunan Kudus sudah memiliki kuyrikulum, sistem pendidikan dan metoda pengajaran tersendiri. Tetapi itu sekedar bahan dan masukan bagi Saridin. Tetapi si Saridin sendiri yang kemudian mengatur dan menguasai kurikulum itu di dalam dirinya sendiri.
Jadi pada hakekatnya pesantren Saridin terletak di dalam otaknya Saridin itu sendiri. Sekolah Saridin berdiri di dalam hitungan akal sehat Saridin sendiri. Universitas Saridin berlangsung di dalam metoda dan proses belajar atau kaifiyah intelektual-spiritual Saridin sendiri.
Itulah sebabnya ia sungguh-sungguh seorang murid.
***
Menurut pandangan Saridin, sikap menjadi murid adalah perwujudan demokrasi pendidikan. Kalau ia hanya murad, berarti ia menyediakan diri untuk ditindas. Padahal Saridin tahu, di dalam Islam, orang dilarang menindas, dan lebih dilarang lagi untuk bersedia ditindas.
Tapi jangan lupa pengetahuan tentang demokrasi itu pasti Saridin ambil dari dunia modern juga. Jadi jangan seratus persen percaya kalau Saridin begitu mbagusi ketika mentertawakan kebudayaan modern. Sebab sesungguhnya ia juga banyak belajar kepada segala sesuatu mengenai modernitas dan modernisme.
Bahkan ada bulan-bulan di mana ia salah menerapkan prinsip demokrasi ketika mengikuti pengajaran dan pendidikan yang diselenggarakan oleh Sunan Kudus.
Ketika Sang Sunan meminta Saridin membuktikan hapalan Qur'annya, satu juz saja, di depan para santri lainnya-dengan mantap ia menjawab: "Sunan, adalah hak asasi saya untuk memilih apakah saya perlu menghapalkan Qur'an atau tidak."
Demokrasi bagi Saridin ketika itu, bertitik berat pada prinsip hak asasi manusia.
Ketika ia diminta mempraktekkan jurus jalan panjang ketika dilatih silat, Saridin juga menjawab: "Saya sendirilah yang berwenang untuk mempraktekkan jurus itu sekarang . Tidak seorangpun bisa memaksa saya" ."
Tapi sebelum selesai kalimatnya, Sunan Kudus mendadak menghampirinya dan menyerbunya dengan berbagai jurus. Saridin kepontal-pontal, pontang-panting, terjatuh-jatuh, terluka dan keseleo.
"Kalau kamu tidak sanggup menjadi pendekar, jangan bersembunyi di balik kata demokrasi!" kata Sunan Kudus sambil mencengkeram leher Saridin yang terengah-engah.
(Emha Ainun Nadjib/Demokrasi tolol versi saridin/Zaituna/1998/PadhangmBulaNetDok)

Konsep Teologi Sepeda Hilang

Konsep Teologi Sepeda Hilang

Pada suatu pagi, sekitar 15 tahun yang lalu, sepeda pancal alias sepeda onthel saya hilang dari rumah kontrakan saya. Tentu diambil oleh salah seorang dari anak-anak muda sekitar sini. Banyak dari mereka pengangguran, dan lagi rumah ini memang dekat dengan pasar.
Sebagai manusia normal, saya marah. Tapi terus terang ini tidak konsisten dan tidak rasional. Rumah ini memang tak pernah dikunci. Setiap orang gampang sekali membuka pintu yang sebelah manapun dan mengambil apapun. Jadi, kalau sepeda hilang, itu logis dan realistis.
Tapi saya tak peduli. Saya ke depan rumah, berdiri bertolak pinggang menghadap ke arah pasar, dan berteriak: "Kalau sepeda saya tidak kembali sampai nanti sore, saya tidak bertanggung jawab kalau ada orang pengkor satu kakinya, cekot sebelah tangannya, atau pethot mulutnyal"
Orang-orang di sekitar kaget dan terkesiap sejenak. Tapi saya segera masuk rumah dan tidur lagi.
Tak disangka tak dinyana, ketika siang belum sempurna, pintu depan diketuk berulangkali. Saya nongol, seorang anak muda berpakaian butut berdiri dengan wajah ketakutan dengan sepeda berdiri ter jagang di sebelahnya.
Ketika saya menatapnya, ia menunduk. "Kenapa kamu?" Saya bertanya.
"Maaf, Cak...," ia menjawab tersendat, "saya yang mencuri sepeda Sampeyan. Saya minta maaf. Sekarang saya kembalikan...."
"Lho, kenapa kamu kembalikan?" Saya bertanya lagi. "Saya dengar dari orang-orang bahwa Sampeyan marah...." `"I'api kan kamu butuh sepeda?" Saya kejar terus.
"Iya, siih.:.."
"Untuk apa sepeda?"
"Tempat kerja saya jauh sekali. Kalau saya jalan kaki, kejauhan. Kalau saya pakai angkutan, gaji saya jadi terlalu sedikit...."
"Jadi kamu butuh sepeda?" "Ya, Cak"
"Kenapa kamu kembalikan sepeda ini?"
"Katanya Sampeyan marah sekali..."
"Tapi kamu kan butuh sepeda?„
"Ya, Cak"
"Ya sudah, kamu bawa saja sepeda ini," kata saya, "sekarang sepeda ini sudali halal kalau kamu bawa. Saya sudah ikhlas, kamu sudah tidak berdosa. Dan, insya Allah, kalau yang kamu pakai adalah barang halal, rejekimu akan berkah. Kalau tadi, karena kamu mencuri, maka kamu berdosa, dan saya kamu tindas. Kamu dikutuk Tuhan, saya tidak mendapat apa-apa kecuali kemarahan. Sekarang semua sudah halal dan baik. Silakan pakai, semoga Allah menambah rezekimu dan meringankan hidupmu."
Dia bengong. Saya masuk rumah dan kembali tidur.
Dengan dua macam lalu-lintas pindahnya suatu barang dari dan ke subyek yang sama, nilainya menjadi berbeda. Kalau saya memakai kalkulasi ekonomi dunia, maka saya rugi kehilangan sepeda. Maka saya pakai teologi manajemen dunia akhirat, sehingga beralihnya sepeda saya ke tangan anak itu tidak membuat saya kehilangan. Malah saya laba banyak, bukan hanya pahala di akhirat, tapi Allah juga menjanjikan rezeki berlipat ganda, entah berupa apapun, terserah Dia saja. pokoknya ia-in syakartum la-azidannakum.
Saya ini hampir selalu dikeluarkan dari setiap sekolah yang pernah saya masuki. Jadi saya ini bukan kaum terpelajar, baik di sektor Salafiyah dan Kitab Kuning, maupun di sektor persekolahan modern. Jadi saya tidak tahu banyak mengenai banyak hal. Tetapi dengan segala keawaman itu saya haqqul yaqin dan 'ainul yaqin bahwa apa yang saya pahami, sikapi, dan lakukan dalam hal sepeda itu adalah konsep teologi Islam.
Apapun saja yang saya lakukan di muka bumi ini, sejak pagi hingga pagi berikutnya, ketika berada di timur atau barat, tatkala berjaga. atau mengantuk, sebisa-bisa saya tumbuhkan di atas kesadaran dan konsep teologi yang segamblang-gamblangnya.
Kalau saya menjumpai sebatang kayu melintang, saya sisihkan ke pinggir supaya tidak menyandungi orang lewat. Kalau mungkin, saya akan pakai ia untuk menyangga sesuatu atau untuk apapun yang bermanfaat. Konsep teologi saya ada lah bahwa segala yang di depan saya itu merupakan amanat Allah untuk saya Islamkan. Di-Islamkan artinya diubah dari kemubaziran atau kemudharatan menjadi kegunaan dan kemashlahatan.
Ingatan, kesadaran, dan formula konsep teologi itu harus terus-menerus saya cari, saya pahami, dan saya terapkan. Dan itu berlaku untuk pekerjaan yang kecil maupun yang besar. Untuk soal rumput di halaman rumah sampai soal pekerjaan sejarah besar yang menyangkut kebudayaan masyarakat.
Saya menyuapi mulut saya dengan nasi tidak karena saya ingin makan, melainkan karena saya wajib memelihara kesehatan badan yang dimandatkan oleh Pencipta saya. Saya mencangkuli tanah dan menanam sesuatu bukan sekadar karena saya menyukai keindahan, melainkan juga karena saya bersyukur dan takjub: kok ya ada di dalam hidup ini yang namanya tanah, kesuburan, serta biji yang kalau ditaruh di situ lantas tumbuh dengan penuh keajaiban.
Saya berangkat tidur pada jam tertentu bukan karena saya ingin menikmatinya, tapi karena saya wajib bergabung ke dalam irama sunnatullah yang menyangkut badan dan jiwa saya. Saya bersedia pulang ke rumah hanya beberapa hari dalam sebulan dan selebihnya diatur orang banyak untuk berada di berbagai tempat dan melaksanakan kemauan mereka, bukan karena itu karir saya atau profesi saya, karena saya tidak punya karir dan tidak peduli profesi.
Saya lakukan itu semua karena, pertama, saya ini aslinya tidak ada, kemudian Allah mengadakan saya, ia satu-satunya yang berhak atas saya, dan karena itu segala yang saya lakukan bergantung pada kemauan-Nya. Saya diberi wewenang oleh-Nya untuk berkemauan, tapi saya tidak pernah percaya bahwa kemauan saya atas diri saya dan dunia ini akan pernah lebih baik dibanding kemauan Tuhan atas diri saya dan dunia ini. Oleh karena itu saya tidak berani melepaskan apapun sampai yang sekecil-kecilnya dan seremeh-remehnya, dari pencarian pengetahuan tentang apa yang kira-kira dimaui oleh Sang Konsultan Agung Allah SWT itu.
Kalau saya punya iradah, harus saya sesuaikan dengan amr-Nya. Terkadang cocok, terkadang tidak. Terkadang benar, terkadang salah. Tapi, apapun yang terjadi, iradah itu harus saya lakukan dengan menggunakan qoul-Nya supaya produknya adalah kun fayakun. Saya tidak banyak mengerti ilmu di alam semesta ini. Jadi hanya itulah yang saya pahami sebagai konsep teologi.
Maka, sebab kedua, orang-orang yang memintaku untuk melakukan segala macam pekerjaan itu -ya kesenian, ya keagamaan, ya politik, ya ekonomi, ya pengobatan, ya konsultasi kejiwaan, ya segala macam jenis partisipasi dan sumbangan sosial- tidak bisa saya yakini bahwa kemauan mereka itu benar-benar terlepas dari kemauan Tuhan. Saya harus berspekulasi dan bersangka baik bahwa mereka adalah penyalur amanat Tuhan kepada saya.
Jadi, apa saja, dari makan rujak sampai bikin ABRI, tidak berhak dilakukan oleh manusia yang memiliki hubungan vertikal total dengan Allah- tanpa memberangkatkannya dari ingatan, kesadaran, dan konsep teologi yang jelas.
Dengan kata lain, tak perlu menunggu mau bikin partai Islam dulu baru berpikir tentang konsep teologi. Bikin mesjid, bikin perusahaan, bikin Golkar, bikin negara, bagi orang yang ber-Tuhan, ada keberangkatan dan titik tuju teologisnya.
Ketika berpakaian sekular, ketika berbusana Muslim, ketika berformalisme Islam, ketika berkultur-kultur Islam, ketika Islam fotmal dipakai atau disembunyikan, ketika Islam diletakkan di kultur thok, atau juga di politik resm, semua terikat pada penyikapan teologis. Apalagi yang namanya Partai Islam, harus terutama dilihat secara substansial: bisa saja namanya Partai Daun atau Partai Kambing, tapi yang kita lihat adalah apakah substansi kerjanya Islam atau tiidak. Hanya orang-orang yang tradisinya berpikir simbolik yang menyangka bahwa partai Islam hanyalah partai yang memakai nama dan kata Islam.
Kalau ada parpol yang pilar perjuangannya adalah amar makruf nahi munkar dan akhlaqul karimah, maka secara substansial ia telah bersyahadat Islam. Bahkan kalau ada parpol lain yang memperjuangkan demokrasi, kemerataan kesejahteraan, keadilan sosial, dan penghormatan atas haq asasi manusia, secara substansial ia bisa kita sebut partai Islam. Masalahnya, tinggal ditunggu proses aktualisasinya saja: konsisten atau tidak, istiqamah atau tidak.
Kalau misalnya saya sibuk dan mencemaskan berdirinya partai Islam, karena toh substansi partai-partai yang ada juga relatif sudah substantially Islam, maka berarti saya berpikir simbolik. Juga berarti saya tidak paham bahwa kalau ada anjuran tentang partai Islam formal, itu sekadar upaya pembebasan dari tradisi simbolisme: agar tidak resmi Islam ya boleh, resmi Islam ya boleh. Yang penting, substansinya Islam atau tidak.
Tidak hanya ketika saya pakai peci saya maka saya terikat oleh teologi Islam. Tatkala saya pakai kaos oblong dan menjadi gelandangan di tepi jalan pun saya terikat oleh Allah.
(Emha Ainun Nadjib/Ummat/2005/PadhangmBulanNetDok)

Buang Sial ke Singapura

Buang Sial ke Singapura

Alkisah, bersepakatlah pengusaha yang muda tiga sekawan untuk ber-weekand ke singapura. Yang satu, Tigor, berasal dari Batak, lainnya, Sutrimo, asli Jawa, lainnya lagi, Abdul, dari Madura.
Sabtu sore ngumpul di Cengkareng, langsung bareng ke Singapura, dan paginya, atau setidaknya siang harinya, balik lagi ke Jakarta. Soal apa alasan kepergian mereka kepada istri masing-masing, Ente pasti cukup profesional untuk mengarang sendiri. Terserah saja apa, tergantung bagaimana Ente sendiri biasanya mengelabuhi istri Ente.
Memang ruginya orang punya istri adalah bahwa ia punya kemungkinan untuk menyeleweng. Kalau bujangan, pasti bersih dari penyelewengan. Kalau Ente seorang suami, begitu lirikan Ente ke seorang cewek mengandung sedikit saja virus napsu, berarti Ente menyeleweng dari istri dan salah-salah bisa dituduh berzina mata oleh sebuah sekte agama.
Tapi kalau Ente bujangan, biar melirik sampai melorok, biar melilit sampai melotot: kan tidak menyeleweng namanya. Jadi, lelaki yang kawin, ia bukan saja sendang menggantikan kemerdekaan dengan penjara, tapi juga memperangkap diri dalam kans penyelewengan. Kok mau-maunya!
Tetapi apakah tiga pengusaha muda kita ini sendang merancang penyelewengan di Singapura? Wallahu' alam. Tanyakan saja langusng kepada Tuhan yang tahu persis apa isi hati mereka, sebab kalau tiga suami muda itu yang Ente tanyai, pasti tidak ngaku.
Alhasil sampailah mereka di Singapura. Singkat kata, mereka langsung cari hotel bintang tujuh. Tapi rupanya semua orang se-Asean ini sedang mengincar Singapura untuk bermalam Minggu. Sehingga di mana-mana hotel penuh. Tiga pengusaha muda kita ini hanya mendapatkan satu kamar, itu pun tingkat 63. Sudah mepet sama lapisan ozon. Dan gampang diserempet oleh lalu-lalang makhluk angkasa luar.
"Tapi kenapa susah? Untung masih dapat kamar. Toh kita tidak ke sini untuk tidur. Toh semalaman nanti kita akan cari hiburan di luar!" kata Sutrimo, mengeluarkan kebiasaan etnisnya untuk selalu merasa untung dalam situasi macam apapun.
"Ah, kau ini!" sahut Tigor. "Tingkat 63! Jauhnya itu! Lebih jauh dibanding Jakarta-Singapura, bah!"
"Lho, masih untung kita dapat kamar!"
"Masih untung! Masih untung! Kalau ban mobil kau meledak, kau bilang 'Masih untung bukan as-nya yang patah!' Kalau as mobil kau patah, Kau bilang 'Masih untung bukan tulang punggung kita yang patah!"
"Lha maunya kamu dapat kamar di tingkat berapa?" Tiba-tiba Abdul nyeletuk.
"Ya 3 kek, 4 kek, atau 5 okelah!" jawab Tigor.
"Kalau begitu kita pindahkan saja kamar kita ke tingkat yang kamu senangi."
"Sialan kau!"
"Atau tingkat 63 ini kita sepakati saja sebagai tingkat 3."
Tapi memang tak ada pilihan lain. Dan karena itu kita singkat saja cerita ini: mereka OK di tingkat 63, menaruh koper kecil mereka masing-masing, pesan makanan kecil, dan telepon sana-sini untuk berorientasi menentukan ke klab malam mana yang paling manis untuk bermalam Minggu.
Kesepakatan dicapai. Usai makan mereka langsung turun ke lobi, ambil taksi, berangkat cari restoran yang harganya jangan sampai murah, sambil nunggu waktu sebelum ke klab malam.
Kemudian segala sesuatunya ditumpahkan. Keringat diperas. Gejolak-gejolak kelelakian dihempaskan. Minum-minum. Ajojing. Ganti Hostess beberapa kali. Pokoknya segala kemungkinan kehidupan malam di tempat itu mereka habiskan dan tuntaskan.
Sehingga ketika dinihari tiba, loyo beratlah mereka. Mereka balik ke hotel dengan badan Hollyfield di ronde 10 dan 11 pertarungannya dengan Bowe. Dan tatkala tiba di hotel, badan mereka menjadi lebih parah bagaikan tubuh Razor Ruddock dihancurkan oleh Lennox Lewwis.
"Lift-nya kebetulan macet," kata Sutrimo kalem.
"Mbahmu!" sahut Tigor menjawa-jawakan diri.
"Ya, jalan kaki. 'Kit-sedikit nanti 'lak sampai!" sambung Abdul.
Mereka terdudu di dekat lift. Runding. Mereka berpendapat bahwa harus diciptakan situasi bersama agar perjalanan menuju tingkat 63 tidak terlalu melelahkan. Akhirnya sepakat: setiap orang harus bercerita, mendongeng atau apa saja, sepanjang 21 tingkat. Jadi ti orang pas 63 tingkat.
Naiklah mereka. Lemes bukan main. Kaki bagai tanpa tulang dan tidak berotot. Langkah amat berat. Tangan mereka terus berpegangan di tanganan tangga atau tembok.
Pertama giliran Sutrimo berkisah tentang pertandingan sepakbola antara kesebelasan Keraton Solo melawan Yogya. Setiap kali striker Solo berhasil membawa bola ke depan kiper Yogya, sang priyayi Ngayoja ini justru minggir, membungkuk-kan badan, sebelah tangannya memegang burung sementara tangan lainnya mempersilahkan: "Monggo Mas, dimasukkan saja bolanya, ndak usah pakewuh!"
Si striker Solo berhenti dan menjawab: "Ah, nanti saja, gampang. Kami tidak tergesa-gesa, kok."
Kejadian yang sama berlangsung ketika striker Yogya berhadapan dengan kiper Solo. Monggo-monggoan dan nanti saja nanti saja. Akhirnya pertandingan berakhir draw, sehingga diselenggarakan sarasehan di tengah lapangan, dihairi oleh ofisial kedua kesebelasan, seluruh pengurus PSSI yang hadir, plus pak RW, Danramil, Penatar P4, dan Ketua Klompencapir. Keputusannya: Juara bersama! Sesuai dengan asaa yang ada.
Sejumlah kisah yang lain dituturkan oleh Sutrimo. Kemudian memasuki tingkat 22, giliran Tigor bercerita. Misalnya tentang pidato tokoh masyarakat Batak dalam suatu upacra sangat resmi memperingati wafatnya Sisingamangaraja sang pahlawan nasional.
"Hari ini," katanya dengan penuh kekhusukan, "Kita memperingati hari wafatnya pahlawan kita Sisingamangaraja yang dibunuh oleh Belanda sialan itu...!"
"Wah, payah dia itu!" komentar Sutrimo, "Wong pidato resmi kok pakai ngumpat segala!"
Demikianlah perjalanan pendakian mereka ke tingkat 63 menjadi tak terlalu melelahkan. Letih sih, letih, tapi dengan melempar-lemparkan konsentrasi ke macam-macam hal yang lucu-lucu, kesadaran bahwa mereka sedang letih menjadi terkurangi.
Apalagi ketika di atas tingkat 43, Abdul mengisahkan tentang pengendara motor di Sampang yang marah-marah kepada polisi yang menilangnya di jalan karena melanggar dan ternyata tidak punya SIM.
Memang dia menyodorkan SIM."Tapi ini bukan SIM saudara! Nama dan fotonya lain!" kata polisi.
Naik pitamlah pengendara motor itu: "Lho Bapak ini kok neh-aneh! Lha wong yang saya pinjami SIM saja 'dak marah kok malah Bapak yang marah!"
Asyiklah mereka mendengarkan kisah-kisah Abdul. Tapi Abdul ini sendiri malah keasyikan. Mereka sudah sampai di tingkat 63, sudah berdiri di depan pintu kamar, Abdul tidak juga berhenti bercerita. Terus saja nerocos.
"Sudah, bah! Bukalah pintu! Mau tidur aku!" protes Tigor tak sabar.
"Nanti dulu," jawab Abdul, "ceritaku belum selesai..."
"Ya, cepat selesaikan saja sekarang," kata Sutrimo.
"Begini..." kata Abdul pelan, "akhir cerita saya ini sungguh-sungguh Happy Ending..."
"Bagaimana itu!" desak Tigor.
Kunci kamar kita tertinggal di mobil..."
(Emha Ainun Nadjib/Folklore Madura (Demokrasi Tolol Saridin)/Progress/PadhangmBulanNetDok)

Kelugasan Madura vs CV Politik Pribadi

Kelugasan Madura vs CV Politik Pribadi

Orang Madura, juga serius dan lugu dengan kata-katanya. Kalau ia menyatakan sesuatu, biasanya karena memang demikian isi hati atau pikirannya.
Kalau ia megungkapkan suatu bentuk sikap tertentu, biasanya karena memang begitulah muatan yang ada dalam bathinnya. Dan itulah perbedaan utama dengan misalnya, orang Jawa dan politisi.
Kalau orang Jawa dalam situasi hubungan yang seringkali feodalistik --mengatakan "Ya", jangan langsung beranggapan bahwa ia memang menyetujui apa yang ia dengarkan atau apa yang anda mintakan persetujuannya. Ada kemungkinan ia masih menyimpan "tidak" di ruang dalam bathin mereka atau minimal dalam gumpalan mondolan blangkon kepala mereka ; tidak usah terkejut, apabila ia tetap menyimpan 'tidak' itu sampai bertahun-tahun lamanya. Ketidakmenentuan "ya" dan "tidak" mereka bisa disebabkan oleh kekuatan hirarkis, atau justru politik kekuasaan atas Anda.
Politisi bisanya kan juga begitu. "Ya" dan "tidak"-nya politisi bergantung kepada titik proyeksi yang diarahkannya, atau kepada tingkat konsesi yang diam-diam ditergetkan. Politisi yang saya maksud bukanlah pejuang nilai atau pejuang demokrasi atau pejuang harkat kerakyatan di jalur politik, melainkan ia yang memperjuangkan keperluan pribadinya di dalam struktur kekuasaan politik, di mana demokrasi dan kedaulatan rakyat adalah alat produksi atau komoditas dari CV Politik Pribadi yang didirikannya.
Sedangkan orang Madura, meskipun pasti tidak semua, relatif berbeda.
Kalau ia mengucapkan sesuatu, biasanya karena memang demikianlah isi hati pikirannya. Kalau ia mengungkapkan sikap tertentu kepada Anda, biasanya karena memang begitulah muatan batinnya. Memang mungkin juga sih, kita bisa menemukan orang Madura yang bisa kita kasih uang sekedar sepuluh ribu rupiah untuk ikut unjuk rasa yang kita rekayasa buat mempertahankan bupati dari jabatannya, meskipun kesalahan Pak Bupati sudah sangat ironis, memalukan dan menyangkut nyawa sejumlah rakyatnya sendiri.
Namun juga tidak sukar Anda menemukan seorang Kyai lokal Madura umpamanya, berkata di depan bupati :
"Anno, Pak Bagus, tolong Pak Bupati jelaskan semua rencana pembangunan maupun proyek yang sedang berlangsung, rancangan dan konsepnya bagaimana, biayanya berapa, pengeluarannya untuk apa saja, ada kecelakaan atau tidak, dan lain sebagainya. Soalnya uang itu, kalau 'dak salah 'kan uang rakyat.
Jadi Pak Bupati harus mempertanggungjawabkannya kepada rakyat. Kalau tidak, kasihan arakyat, Pak.
Moso' sudah PJPT kedua begini, rakyat dibiarkan buta huruf terhadap pembangunan. Jangankan terhadap makna pembangunan, lha wong terhadap angka-angka dan manajemennya saja, buata huruf..."
Pak Kyai itu, saya saksikan dengan kepala sendiri, mengucapkan itu dengan wajah polos dan hampir tanpa ekspresi. Ia begitu bersungguh-sungguh dengan ucapannya, dan saya sampai detik ini belum sanggup membayangkan bahwa hal seperti itu, mungkin terjadi di Jombang, Klaten atau atmosfir budaya kekuasaan Jawa lainnya. Jawa juga "menguasai" Madura, tetapi di Madura, kebanyakan bupati atau tokoh-tokoh berwenang lainnya sangat sukar untuk berlaku sebagai "rakyat kecil" sebagaimana Pak Camat bisa dengan gampang berbuat demikian di Jawa.
Pada kesempatan lain, saya pernah diundang untuk menghadiri dan sedikit urun bicara dalam acara khaul seorang kyai besar masa silam yang diperingati hari kewafatannya dengan pengajian dan tahlilan besar.
Terus-terang, biasanya saya sambat dan jengkel oleh bertele-telenya ritus acara-acara yang diselenggarakan oleh komunitas Muslim Indonesia.
Bahkan pun jika yang menyelenggarakan adalah "kaum modernis" seperti PMII, HMI dan lain sebagainya. Biasanya, pembawa acara ngomongnya menggunakan bahasa Indonesia sinetron, urutan acara dijejali oleh sangat banyak sambutan yang isinya 90% pura-pura, dan keseluruhannya ditaburi oleh formalisme dan ritualisme yang membosankan.
Lha, di Madura ini, tiba-tiba saja ada santri naik podium, kasih salam, kemudian langsung membacakan ayat-ayat suci Qur'an. Sesudahnya, pembawa acara, yang tidak naik podium, berkata: "Sekarang langsung saja kita persilahkan kepada Cak Nun..."
Sambil naik mimbar, saya mikir-mikir. Alangkah efektif dan efisiennya kawan-kawan Madura ini.
Tapi memang semua yang hadir sejak sebelum berangkat sudah tahu ini acara apa, dalam rangka apa, maknanya kira-kira apa, dan lain sebagainya, sehingga sama sekali tak diperlukan orang-orang harus manggung untuk menjelaskan itu semua.
Maka sayapun langsung "nyanyi" dua jam penuh.
Namun, di tengah-tengahnya, tampakmoleh saya sejumlah pejabat, berpakaian Safari dan lainnya baju batik panjang. Mereka turut mendengarkan dengan serius, tetapi juga saya mereasakan bahwa ada yang tidak sreg dalam batin mereka. Dan itu saya ketahui sesudah acara, yakni ketika kami ramai-ramai makan siang.
Tampaknya ada semacam protes dari wilayah birokrasi, kenapa sambutan yang sudah dipersiapkan capek-capek, tidak diberi kesempatan. Maka saya dengarlah suara keras dan lugu salah seorang kyai: Lho Pak. Kalau kami diundang ke kantor Kabupaten, kami disuguhi teh botol, dan snack, lantas kami disuruh mendengarkan pengarahan. Lha sekarang Bapak-bapak ke sini kami sembelihkan kambing-kambing dan ayam. Jadi silahkan menikmati keikhlasan kami dan silahkan mendengarkan!"
Hendaknya Anda ketahui juga, bahwa hanya di Madura saya menjumpai adegan di mana ketika saya sedang berapi-api bagaikan Nabi Sulaiman yang sedang berpidato di depan massa jin, mendadak seseorang berdiri dan mengacungkan tangan sambil berteriak: "Cak! Ucapan ayat Sampeyan itu, keliru!"
(Emha Ainun Nadjib/"Demokrasi Tolol Saridin" (Folklore Madura)/Zaituna (Progress)/1998/PadhangmBulanNetDok)

LISTRIK MAJAPAHIT

LISTRIK MAJAPAHIT

Apakah satu dua malam akhir-akhir ini listrik di tempat Anda suka ngaso*) juga seperti di kampung saya?
Derita dan keterpepetan membuat orang sewot, marah, jengkel, atau justru kreatif. Paling tidak, kita jadinya bisa menyelenggarakan diskusi gratis, tanpa budget macam-macam termasuk "uang tak terduga" yang sudah kita duga secara persis.
Begitu sang listrik 'tidur', teman-teman di rumah kontrakan saya mengomel. "Terasa sekali betapa kita ini tergantung kepada alat-alat yang kita ciptakan sendiri," kata seseorang.
"O, ya! yang lain nyeletuk, "Di zaman Maapahit sudah ada minyak tanah atau belum ya?"
Kemudian diskusi menjadi riuh, dan saya bersyukur tidak sedang ada tamu seorang sejarawan. Sebab dia bisa dijawabnya secara persis.
Kita tahu Gajah Mada bersumpah, Ranggalawe cemburu sosial, Raden Wijaya menjebak pasukan Cina, Suhita didongengkan sebagai Kencanawungu, Perang Bubat membawa dampak psikologis berabad-abad.

Tapi kita tak tahu, dan tak berminat tahu, bagaimana persisnya kostum harian orang Majapahlt, apakah mereka pakai jarum untuk dondom,**) atau bagaimana orang dusun misuh"*) waktu itu, atau apa saja kek.

Kita hanya tahu hal-hal mengenai kekuasaan. Kita membikin buku pelajaran dan mengisi jiwa siswa-siswa sekolah dengan hal-hal mengenai kekuasaan. Kekuasaan.
Kita mengerti Gajah Mada, karena diejek, cancut tali wanda, rnenggenggami kerajaan-kerajaan di sekitarnya, nglurug****) sampai Muangthai segala. Termasuk Ekspedisi Pamalayu yang berkepanjangan.
Lepas dari kita setuju atau tidak, tapi jarang awak berpikir bahwa Gadjah Mada melakukan itu tanpa walky talky, tanpa teknologi militer yang kini bisa memusnahkan bumi dengan sejentikan jari, tanpa kapal berapi, tanpa pesawat tempur, tanpa satelit yang bisa mendeteksi dari angkasa - apakah di Kecamatan Wonokromo ada pabrik senjata atau tidak.
Lha sekarang ini listrik mati seperti kehilangan Tuhan rasanya. Kalau motor macet, kita sudah hampir tak punya mentalitas untuk pakai sepeda. Kalau baju robek, malu pakai - seolah sama dengan dosa tak sembahyang Jumat. Kita juga tak berani jalan-jalan di Malioboro tanpa sepatu atau sandal.

*) Ngaso: istirahat.
**) Dondom: menjahit tidak dengan mesin.
***) Misuh: mengomel.
****) Nglurug: bertandang.

Di Kutip dari Tulisan Emha Ainun Nadjib

CITA-CITA SUCI "SI DIA"

CITA-CITA SUCI "SI DIA"

Di Jakarta, pusat kemajuan Indonesia, terdapatlah seorang wanita bintang seks yang cukup terkenal. la seorang foto model dan bintang film yang dianugerahi Tuhan wajah cantik dan tubuh indah. Rupanya ia tidak 'egois': anugerah itu tak dipakainya sendiri atau tak dipersembahkan hanya buat suaminya tercinta. la 'mendermakannya' kepada sebanyak mungkin orang, dengan cara membuka dan memaparkan keindahannya itu di depan kamera.
Berkat 'kedermawatian'-nya itu, ia pun memperoleh uang dan kekayaan yang jauh melebihi kebanyakan penduduk negerinya.
Itu, tentu saja, bukan berita aneh. Bahkan 'bukan berita'. Sebab kita sudah terbiasa memadukan baik dengan buruk secara harmonis. Kita mampu mengiklankan "budaya timur" sambil melanggarnya. Kita sanggup mempidatokan Ketuhanan Yang Maha Esa justru untuk melanggar-Nya. Kita ahli bicara soal film yang kultural edukatif sambil memproduksi barang jualan yang kurang beradab dan tak mendidik. Dunia jahiliah sudah mendarah daging, sehingga makin tdak terasa.
Yang menjadi berita adaiah bagaimana bintang seks kita itu mendidik putrinya. Dengan sadar ia menggiring anak kinasihnya untuk mengikuii jejaknya. Ia bahkan bangga.
Tahun ini sang putri berumur 16. Berbagai fotonya dengan pakaian yang justru menonjolkan bentuk tubuhnya yang amat merangsang telah mulai terpampang di beberapa media massa cetak. Sang putri ini sangat cerdas bagaimana mewarisi semangat ibunya, dan sudah canggih bikin pernyataan kepada wartawan: "Saya sudah siap melakukan adegan-adegan panas. Memang saya mengambil pengalaman dari yang Ibu lakukan,
tapi saya ingin menjadi diri sendiri."
Maksudnya, ternyata, "Saya ingin tampil lebih hangat. Tapi juga ditunjang oleh kemampuan akting. Kalau soal buka-buka pakaian di depan 'camera sih soal gampang, tapi bagaimana menentukan pose dan akting yang pas, itu yang harus saya pelajari."
Kenapa hal ini rnenjadi berita?
Karena, biasanya, pelacur yang paling pelacur pun tak menginginkan anaknya jadi pelacur. "Biarlah saya rusak, tapi anak saya harus jadi orang balk-balk" biasanya demikian pelacur bersikap. Bahkan ada pelacur yang dengan sadar melacurkan diri demi membiayai proses kemajuan anaknya menuju masa depan yang balk. Pelacur biasanya punya cita-cita luhur bagi anak-anaknya. Ia menjadi pelacur tidak karena keyakinan atau hobinya, tetapi karena keterpepetan untuk menjadi semacam martir.
Jadi apa yang kita jumpai pada bintang seks kita di atas, adalah gejala yang berbeda.
Saya menduga itu bukan hanya fenomena psikologis melainkan lebih dari itu: ia adalah munculan dari gejala peradaban yang lebih luas dan makin merata.
Merata. Masuk kampung kita. RK dan RT kita. Lantas rumah kita.
Sementara itu kita sibuk mempertengkarkan apakah huruf alif sebaiknya ditulis lurus atau sedikit bengkok.
(Emha Ainun Nadjib/"Secangkir Kopi Jon Pakir"/Mizan/1996/PadhangmBulanNetDok)

MILIKKU,MILIK DAN KU

MILIKKU,MILIK DAN KU

Para pembeli di warung kopi makin lama makin suka baca koran. Mempero!eh inforrnasi sudah sarna kedudukannya seperti rnandi, makan nasi atau kerokan.
Orang makin maju, karena tak mungkin berjalan ke belakang. Dulu orang cukup nguping, rerasan sana sini.
Budaya rerasan itu lantas dilembagakan, dicanggihkan, dalam maksud yang positif. Koran jual berita seperti warung jual mendoan. Maka semoga yang dijual oleh koran selalu 'rnakanan' objektif, sehat, bergizi, gurih, tidak dilatarbelakangi oleh subjektivitas kelompok ini-itu yang bisa bikin mencret. Meskipun demikian, kalau toh mencret, orang sudah terbiasa jajan di warung yang makanannya tak dilindungi dari debu dan lalat.
Pelanggan warung kopi kita amal: suka berita kriminal, humor, iklan, atau guratan-guratan apa saja yang kira-kira bisa diindikasikan (oleh sebagian pelanggan) sebagai petunjuk nomer lotre.
Yang paling kuaang disukai biasanya ialah kutipan pidato. Pejabat ini bilang begini, sarjana itu bilang begitu.
Bahasanya canggih, istilah-istilahnya ningrat. Seperti roti dari planet, sukar dikunyah dan tak jelas rasanya di Iidah.
Apa tho kapitalisme itu? -- seseorang nyeletuk dengan susunan bunyi yang terbata-bata.
Oo, itu bongso sosialisme atau apa itu .. . - kata yang lain.
Tentu saja omong-omong cepat mandeg. Maklum ketika itu pelanggan yang datang umumnya berasal dari kalangan sosial ekonomi lapis bawah atau setidaknya menengah bawah. Jadi tingkat pengetahuannya mengenai bahasa-bahasa modern (dus bukan atau belum tentu tingkat intelektualnya) serba bawah juga.
Saya jadi punya kesernpatan jadi Dosen. Maklumlah saya kan mustahil jadi dosen. Saya bilang, kapitalisme ialah orang mengatakan: "Punyaku ya punyaku, punyamu ya punyaku..."
Ada prinsip ekonomi: dengan modal serendah-rendahnya, kita peroleh hasil setinggi-tingginya. Itu sebuah sikap mental, yang 'mimpi' idealnya ialah: tanpa modal, kita peroleh semua. Maka adanya monopoli, tatanan sentral-periferi, jurang kaya-miskin, akan berlangsung 'dengan sendirinya' meskipun diselenggarakan aturan main untuk mengontrolnya.
Sosialisme itu sebaliknya: "Punyaku ini punyamu, punyamu itu punyaku": Meskipun demikian, di banyak negeri sosialis, rakyat bilang, "Punyaku punyamu, punyamu punya-mu". Sementara penguasa berbisik di dalam hatinya, "Punyamu punyaku, punyaku punyaku".
Lha, lantas ada suara lain bilang: Tak ada punyamu, tak ada punyaku. Yang punya hanya Tuhan. Milik itu hanya wewenang Tuhan. Ku itu tak ada kecuali Tuhan. Ku lainnya itu pinjaman.
Tapi siapa percaya kata-kata ini?
Ada. Hati kecil semua rnanusia. Hati kecil kita. Tetapi hidup kita tak mengandung keberanian untuk meyakini dan rnelaksanakannya. Maklumlah, lha wong kita.
(Emha Ainun Nadjib/"Secangkir Kopi Jon Pakir"/Mizan/1996/PadhangmBulanNetDok)

Tangis 40 Hari 40 Malam

Tangis 40 Hari 40 Malam

Sesudah melakukan dosa terkutuk itu, Daud, sang Nabi, menangis 40 hari 40 malam.
Ia bersujud. Tak sejenakpun mengangkat kepalanya.
Keningnya bagai menyatu dengan tanah. Air matanya meresap membasahi tanah tandus itu sehingga tumbuhlan reumputan. Rerumputan itu kemudian meninggi merimbun dan menutupi kepalanya.
Allah menyapanya.
Bertambah nangis ia, meraung dan terguncang-guncang. Pepohonan di sekitarnya bergayut berdesakan satu sama lain mendengar raungan itu, kemudian daun-daunnya rontok, kayu-kayunya mengering, oleh duka derita dan penyesalan Daud yang diresapimya.
Dan Allah masih juga 'menggoda'nya:
"Daud, Engkau lupa akan dosamu. Engkau hanya ingat tangismu."
Dan sang Nabi terus berjuang dengan air matanya.
Air mata kehidupan Daud bagai samudera.
Kesunngguhan Daud terhadap nilai-nilai ketuhanan -- ya nilai kehidupan ini sendiri -- bagai samudera.
Adapun saya, yang hidup ribuan tahun sesudah Daud, hanya pernah menitikkan air mata beberapa cangkir. Juga apa yang saya bisa sebut air mata ruhani saya.
Di dalam zaman yang telah jauh maju ke depan ini, barangkali saya bersemayam di kehidupan yang ringan dan riang melakukan dosa-dosa.
(Emha Ainun Nadjib/"Secangkir Kopi Jon Pakir"/Mizan/1995/PadhangmBulanNetDok)

Ya Allah, Engkau tak Butuh Sapi...

Ya Allah, Engkau tak Butuh Sapi...

Bagaimana mungkin orang Madura berani tidak hidup serius dan anti serius, lha wong Tuhan sendiri saja seriusnya setengah mati ketika menggagas, menskenario dan memanggungkan "la'ibun wa lahwun"--permainan dan senda gurau, begitu kata firman-Nya--di muka bumi dan tempat-tempat lain di kosmos ini.
Kalau Ia berkata: "Aku ini Maha Pengasih dan Maha Penyayang", itu serius. "Aku ini Maha Penjaga dan Maha Pemelihara," itu tidak main-main. Ia mendelegasikan sejumlah Malaikat untuk memelihara pertumbuhan rambut Anda sampai sepanjang-panjangnya dan terus menerus tumbuh sehingga salon dan barber shop memiliki kemungkinan permanen untuk hidup. Para Malaikat lain Ia perintahkan untuk merontokkan rambut orang-orang tertentu, supaya Malaikat itu bisa membedakan mana orang yang ikhlas menerima kebotakannya dan siapa lainnya yang memakai wig atau sekurang-kurangnya menutupinya dengan topi di mana-mana. Sementara beberapa Malaikat lain Ia instruksikan untuk menahan laju pertumbuhan bulu alis dan idep di pinggiran mata Anda sampai hanya di bawah satu senti meter saja, sebab kalau tidak: mekanisme sosial masyarakat manusia akan menjadi lain dan estetika wajah manusia akan berubah konsepnya.
Begitu seriusnya mengkonsepsikan pen-ciptaan-Nya hingga ke detail-detail yang tak terhitung oleh ultrakomputer. Setiap matahari terbit dan manusia bangun dari tidur lelapnya, senantiasa terdengar oleh telinga batinnya--dan seringkali tak terdengar oleh gendang dan daun telinga dagingnya--suara gaib bahwa Ia itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Seorang tua renta yang sepanjang hidupnya menyembah berhala, tiba-tiba terdengar suara itu di tengah sakit parahnya yang tak sembuh-sembuh. Kepada berhalanya ia putus asa dan merasa dendam. Ia berteriak pagi itu: "Baiklah, kalau kamu memang tidak bersedia menyembuhkan aku, terpaksa aku akan meminta kepada Tuhan yang namanya Allah atau siapa itu untuk mencoba menyembuhkanku. He, Allah! Kalau memang Kamu ada, kalau memang Kamu Maha Kuasa, kalau memang seperti kata orang-orang Kamu adalah Maha Pengasih dan Penyayang...sembuhkan penyakitku!"
Si tua renta itu membentak-bentak Tuhan sehingga para Malaikat yang mendengarnya langsung tersinggung berat, naik pitam, dan hampir saja digamparnya itu orang, kalau saja mereka tidak ingat bahwa mereka hanya diperkenankan melakukan apa-apa yang diperintahkan oleh Tuhan. "Ya'malu ma yu'marun", hanya mengerjakan yang Allah perintahkan. Maka berbondong-bondong mereka dengan penuh emosi mendatangi Tuhan dan mengadukan perilaku si tua renta yang kurang ajar dan menyinggung perasaan itu.
"Ya Allah, ada seorang hamba-Mu yang tak tahu diri. Ia sembah berhala selama 79 tahun, kemudian di ujung usianya sakit parah dan berhala yang disembahnya itu tak menyembuhkannya. Lantas ia dendam dan menentang Engkau. Kalau memang Engkau ada, kalau memang Engkau Pengasih dan Penyayang, ia minta bukti berupa kesembuhan..."
Allah menjawab dengan santai namun muatannya sangat serius: "Ya sudah, sembuhkan saja sekarang dia!"
Para malaikat langsung protes: "Lho, bagaimana, sih? Lebih dari seratus juga umat-Mu di Indonesia berdoa bertahun-tahun agar SDSB dibubarkan, baru belakangan ini saja Engkau mengabulkan. Dan doa-doa mereka yang menyangkut kekalahan politik mereka, kekalahan ekonomi dan kebudayaan mereka, sampai hari ini Engkau biarkan terbengkalai. Padahal umat-Mu di negeri indah itu sudah mati-matian salat, hajinya meningkat tiap tahun, sudah bikin masjid di mana-mana, ulamanya sudah kompak selalu dengan umara...tapi Engkau biarkan mereka terkantung-katung dalam ujian-Mu dan hukum-Mu. Lha, ini ada seorang kafir penyembah berhala mau ngetes Engkau, kok langsung saja Engkau kabulkan permintaanya?"
Tuhan tetap santai juga menjawab: "Lha, kalau doanya tidak Saya kabulkan, lantas apa bedanya antara aku dengan berhala itu!"
Jadi, ammaba'du, demikian seriusnya Allah atas dirinya sendiri, demikian konsistennya Ia atas ucapan dan janji-janjiNya sendiri. Bagaimana mungkin orang Madura berani 'dak serius kepada Tuhan dan dirinya sendiri?
Tapi memang juga ada sih, anak-anak muda Madura yang terkadang berani bersenda gurau yang keterlaluan kepada Tuhan, seperti mahasiswa asal Batang-Batang ujung timur Madura yang di kampusnya diangkat jadi Menwa ini.
Pada suatu hari di antara berbagai jenis kemiliteran, ia diwajibkan ikut berlatih terjun payung. terjun payung! Gila. Naik ke angkasa, lantas anjlok ke tanah! Iya, kalau payungnya bisa di buka. Kalau tidak ? Kalau tiba-tiba lupa caranya mengembangkan payung? Kalau mendadak gegar otak sementara?
Jadi betapa mengerikan. Si pemuda batang-batang ini terus terang saja ketakutan setengah mati. Mending carok melawan rambo dari pada terjun payung.
Tapi, demi harga dan kehormatan Madura, akhirnya ia layani juga kewajiban itu.Ia berlatih sebisa-bisa sambil memompa keberanian di hatinya. Tetapi ketika saatnya untuk harus terjun beneran tiba, ternyata ketakutannya belum reda. Badannya dingin panas, dadanya gemetar. Dan dalam keadaan seperti itu, siapa lagi kalau bukan Tuhan sahabatnya.
Maka ketika berbaris menuju pesat, diam-diam ia berdo'a: "Ya Allah, kalau Engkau selamatkan aku dalam tugas ini untuk kembali ke bumi tanpa kurang suatu apa, aku berjanji akan menyembeli ayam ...
Semakin dekat ke pesawat, doanya semakin seru, konsesi yang ia tawarkan kepada Tuhan pun meningkat. "Tidak hanya seekor ayam, Tuhan, tapi lima, lima ekor yang akan saya sembelih!"
Ketika kemudian ia naik pesawat, duduk berbaris, melirik jendela dan melihat betapa jauhnya bumi di bawah, konsesi membengkak pesat: "Sapi, Tuhan, Sapi! Saya akan sembelih sapi!
Dan ketika satu persatu anggota Menwa itu didorong terjun dari pintu pesawat, lantas ia sendiri merasakan tangan sang komandan menyorong punggungnya, lantas terlontar dari mulutnya: "Sapi! Sapi! ..'
Tapi kemudian, tatkala ia sukses menjalani tugasnya, menjejakkan kakinya kembali di tanah, Si Batang-Batang ini menengadahkan wajahnya ke atas sambil bertolak pinggang: "Meskipun saya 'dak sembelih sapi, mau apa! Aku tahu Engkau tak butuh sapi!"
(Emha Ainun Nadjib/"Folklore Madura" ("Demokrasi Tolol Saridin")/Progress/PadhangmBulanNetDok)

Teokrasi Islam Sebagai Persoalan Ilmu dan Sebagai Persoalan Politik

Teokrasi Islam Sebagai Persoalan Ilmu dan Sebagai Persoalan Politik

Aplikasi Khilafiah
Proses pelaksanaan khilafiah mungkin bisa dimetaforkan dengan tahap-tahap sebagai berikut:
Allah menciptakan tanah, manusia membuat keramik, Allah menganugerahkan padi, manusia mengolahnya menjadi beras dan nasi, Allah menciptakan alam, manusia membudayakannya, atau menjadikannya bagian dari kebudayaan dan peradaban.
Alam materi dan tumbuh-tumbuhan adalah alam pasif. Hewan adalah alam aktif tanpa kesadaran akal dan tanpa firman. Manusia adalah alam aktif dengan kesadaran akal dan dengan firman.
Materi, tumbuh-tumbuhan dan hewan memiliki "spiritualitas otomatik" dan kepatuhan natural kepada sistem nilai ciptaan Tuhan (hukum alam, sunnatullah).
Akal memungkinkan manusia menyadari spiritualitasnya, sehingga mampu mensikapi dan mensubyeki hubungan kehidupannya dengan sistem nilai Tuhan. Itulah surnber kesederajatan manusia, demokrasi politik, kemerataan ekonomi dan keindahan kebudayaan.
Namun jusfru karena itu kepatuhan materi, tumbuhtumbuhan dan hewan bersifat pasti, sedangkan kepatuhan manusia bersifat mungkin.
Dengan demildan tatkala manusia mengkhalifahi atau mengakali tiga realitas ciptaan Allah (alam semesta, manusia dan firman), yang berlangsung adalah kemungkinankernungkinan. Yaitu kemungkinan untuk benar atau untuk salah. Kemungkinan untuk baik atau untuk buruk, untuk selamat atau untuk hancur.
Juga ketika pengakalan itu tiba pada ijtihad dan tafsir ilmu, ideologi sistem-sistem nilai serta penerapannya ia berada di antara dua kemungkinan itu.
Setiap zaman, setiap era peradaban, pada hakekatnya merupakan tahap-tahap tajribah atau eksperimentasi yang tidak ada hentinya. Dengan demikian ketika manusia menyepakati untuk memilih kebersamaan hidup dalam umpamanya format "negara", "negara sekular", "negara Islam", atau apapun saja-secara keilmuan harus dilihat sebagai dinamika ijtihad atau proses pencarian, pengubahan, perombakan dan pembaruan yang
tidak final.

Membaca Inti Realitas Negara, Teokrasi dan Islam
Islam membuka pintu lebar-lebar bagi berbagai kemungkinan bentuk penerapan dan penataan kedaulatan dalam masyarakat manusia. Yang menjadi ukuran utama bukan pola institusionalisasinya, melainkan apakah prinsip moralitas dan aplikasi khilafiahnya dipenuhi atau tidak.
Mungkin kita tetap memilih Negara, dengan segala kesepakatan tentang sistem kedaulatannya; meskipun pada tingkat tertentu sejumlah legalitas sistem harus dibuat dengan mengandaikan bahwa "manusia tidak bisa dipercaya".
Mungkin pada suatu hari terjadi hal-hal yang istimewa seperti bencana alam total atau Perang Dunia ke-3 yang relatif menghancurkan tatanan-tatanan pokok peradaban negara, sehingga kemudian kita memilih bentuk qaryah saja, semacam small is beautiful', di mana manusia mengikatkan diri dalam semacam lirigkar koloni-koloni kecil, dan pola-pola perhubungan politis, hukum dan budayanya diusahakan tetap "mengandalkan manusia"
Atau berbagai kemungkinan lain. Islam tidak membatasinya, kecuali mempedomankan moralitas khilafiah atau acuan keilahian: dengan menyerahkan kepada manusia apakah hal itu diserahkan hanya kepada otoritas permanusia, ataukah di legalisasikan secara institusional.
Sejauh ini iklim pemikiran dunia mengenai kedaulatan politik sangat diwarnai oleh antara lain trauma Abad Pertengahan Eropa di mana otoritas keagamaan atau keilahian dimanipulasi, dieksploitasikan untuk kepentingan suprastruktur kepemerintahan suatu negara. Sesungguhnya sejumlah ilmu, pemikirari ideologi pokok yang berlaku pada abad 19 dan 20 merupakan "anak berontak" terhadap tipologi "bapak" middle age semacam itu. Perspektif demokrasi, "hati" kom-unisme dan "kepalan tangan" marxisme, secara historis
dialektis "digambar" oleh 'rbapak" tersebut.
Pada gilirannya Agama dan Tuhan menjadi korban atau kambing hitam tanpa henti-hentinya, karena ilmu pengetahuan ummat manusia sampai akhir abad 20 tidak kunjung mampu mengurai secara jemih dimensi nilai murni Tuhan dan Agama dari praktek-praktek sejarah yang memanipulasikannya.
Tidak mengherankan apabila segala berita tentang teokrasi akan masih langsung "menyakitkan hati". Kalau o-rang tidak bisa meredusir "racun" dari "minuman", maka yang di-buang ke dalam got bukan hanya racun, tetapi juga minu-mannya. Apabila dalam skala peradaban global: kemung-kinan untuk memilah racun dari minuman barang kali membutuhkan jangka waktu yang sangat tidak sebentar.
Islam "ketiban sial" pada momentum belum teruraikannya racun dari minuman selama ini. Persepsi dunia tentang "Fundamentalisme Islam" sangat bias. Setiap kemurigkinan tumbuhnya Teokrasi Islam akan secara otomatis dianggap merupakan ancaman terhadap demokrasi. Hari-hari FIS dihajar dan coba dimusnahkan oleh pemerintahan nasional Aljazair: secara rasional dunia sudah bisa memberi peringatan "Jangan korban
demokrasi!". Tetapi secara psikologis pada akhirnya akan disepakati bahwa intuk sementara secara darurat demokrasi memang tidak ipa-apa dikorbankan, karena toh itu merupakan "pilihan rang lebih baik" dibanding apabila gerakan fundamentalisne Islam dibiarkan hidup.
Sampai awal abad 21 Islam herada di "tanah genting" (meminjarn istilah KH Muhammad Zuhri), yakni "di garis pertemuan antar dua gelombang laut, suatu posisi yang sangat mempelesetkan: namun justru di tempat itulah ikan mati bekal Nabi Musa yang dibawa oleh Dzun-Nun sahabatnya menjadi hidup kembali".

Artinya, ini justru bisa merupakan awal dari momentum kebangkitan).
Iklim "tanah genting" berlangsung juga secara nasional di Indonesia. Pemikiran-pemikiran Islam mutakhir ambil contoh pandangan-pandangan KH Abdurahman Wahid serta sepak terjangnya membawa Nahdlatul Ulama merefleksikan suatu "keadaan tiarap" tertentu. Islam "disembunyikan" dari probabilitas kekuasaan dalam Negara, dan lebih mengendalikan diri sebagai semacam "pohon pionir". Pengejawantahan Islam lebih
diletakkan tiang bendera, melainkan "jadilah" muatan-muatan yang mensifati bendera apapun.(selesai)
Dies Natalis Ull Yogyakarta 12 Februari 1992

(Emha Ainun Nadjib/ "Nasionalisme Muhammad" - Islam Menyongsong Masa Depan / Sipress / 1995 / PadhangmBulanNetDok