UNPLUGGED

Tampilkan postingan dengan label Bacaan Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bacaan Islam. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Mei 2011

Membaca dan Selimut

Membaca dan Selimut

Kiai Sudrun berkata kepada cucunya, seorang sarjana yang tadi siang diwisuda.

"Di zaman dahulu kala terdapatlah makhluk yang bernama Kebudayaan Barat.
Pada masa itu tak ada barang di muka bumi ini yang dikutuk orang melebihi kebudayaan barat sehingga ia dianggap sedikit saja lebih baik dari anjing kurap.
Pada masa itu pula tak ada sesuatu pun dalam kehidupan yang dipuja orang melebihi kebudayaan barat sehingga terkadang ia melebihi Tuhan."

"Ini kisah aneh apa lagi?" bertanya sang cucu.

"Kaum Muslim pada waktu itu sedang mencapai puncak semangatnya untuk memperjuangkan agamanya, menemukan identitas dan bentukan kebudayaannya sendiri," si kakek melanjutkan, "Maka dipandanglah kebudayaan barat itu oleh mereka dengan penuh rasa najis, serta dipakailah barang-barang kebudayaan barat itu dengan penuh rasa sayang dan kebanggan."

"Lagi-lagi soal kemunafikan!"

"Tak penting benar soal kemunafikan itu dalam kisah ini," jawab Kiai Sudrun, "setidak-tidaknya engkah sudah paham persis masalah itu, dan lagi yang hendak aku ceritakan kepadamu adalah soal lain."

Sang cucu diam mendengarkan.

"Kaum Muslim pada waktu itu mempertentangkan Islam dengan kebudayaan barat seperti mempertentangkan cahaya dengan kegelapan atau malaikat dengan setan.
Padahal sampai batas tertentu, para pelaku kebudayaan barat itu sendirilah yang dengan ketekunan amat tinggi melaksanakan ajaran Islam."

"Kakek sembrono, ah."

"Tak ada yang melebihi mereka dalam melaksanakan kewajiban iqra', meskipun kemudian disusul oleh sebagian bangsa-bangsa tetangganya. Tak ada yang melebihi mereka dalam kesungguhan menggali rahasia ilmu dan mengungkap kemampuan-kemampuan alam. Mereka telah membawa seluruh umat manusia memasuki keajaiban demi keajaiban. Mereka mengantarkan manusia untuk mencapai jarak tertentu dalam waktu satu jam sesudah pada abad sebelumnya mereka memerlukan perjalanan berbulan-bulan lamanya. Mereka mempersembahkan kepada telinga dan mata manusia berita dan pemandangan dari balik dunia yang berlangsung saat itu juga. Mereka telah memberi suluh kepada pengetahuan manusia untuk mengetahui yang lebih besar dari galaksi serta yang sejuta kali lebih lembut dari debu."

"Dimuliakan Allahlah mereka," sahut sang cucu.

"Benar," jawab kakeknya, "kalau saja mereka meletakkan hasil iqra' itu di dalam kerangka bismi rabbika-lladzi khalaq. Seandainya saja mereka mempersembahkan ilmu dan teknologi itu untuk menciptakan tata hidup yang menyembah Allah.
Seandainya saja ereka merekayasa kedahsyatan itu tidak untuk penekanan dalam politik, pemerasan dalam ekonomi, sakit jiwa dalam kebudayaan, serta kemudian kebuntuan dan keterpencilan dalam peradaban."

"Apa rupanya yang mereka lakukan?"

"Memelihara peperangan, mendirikan berhala yang tak mereka ketahui sebagai berhala, menumpuk barang-barang yang sesungguhnya tak mereka perlukan, pura-pura menyembah tuhan dan bersenggama dengan binatang."

"Anjing kurap!" teriak sang cucu.

"Memang demikian sebagian dari Kaum Muslim, memaki-maki, tapi kebanyakan dari mereka bergabung menjadi pelaku dari pembangunan yang mengarah kepada kebudayaan yang semacam itu."

"Munafik!" sang cucu berteriak lagi.

"Menjadi seperti kau inilah sebagian dari Kaum Muslim di masa itu. Dari sekian cakrawala ilmu anugerah Allah mereka mengembangkan satu saja, yakni kemampuan untuk mengutuk dan menghardik. Tetapi kemudian karena tak ada sesuatu pun yang berubah oleh kutukan dan hardikan, maka mereka pun pergi memencilkan diri:
melarikan diri ke dalam hutan sunyi, mendirikan kampung-kampung sendiri - di pelosok belantara atau di dalam relung kejiwaan mereka sendiri. Mereka menjadi bala tentara yang lari terbirit-birit meninggalkan medan untuk menciptakan dunianya sendiri. Mereka ini mungkin kau sebut kerdil, tetapi sesungguhnya itu masih lebih baik dibandingkan kebanyakan orang lain yang selalu berteriak sinis 'Kalian sok suci!' atau 'Kami tak mau munafik!' sementara yang mereka lakukan sungguh-sungguh adalah kekufuran perilaku dan pilihan. Namun demikian tetaplah Allah Mahabesar dan Mahaadil, karena tetap pula di antara kedua kaum itu dikehendakiNya hamba-hamba yang mencoba merintis perlawanan di tengah medan perang. Mereka menatap ketertinggalan mereka dengan mata jernih. Mereka ber-iqra', membaca
keadaan, menggali dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan kesanggupan mengolah
sejarah, sambil diletakkannya semua itu dalam bismi rabbi. Ilmu ditimba dengan kesadaran dan ketakjuban Ilahiah. Teknologi ditaruh sebagai batu-bata kebudayaan yang bersujud kepada Allah."

"Maka lahirlah makhluk baru di dalam diri Kaum Muslim," berkata Kiai Sudrun selanjutnya, "Gerakan intelektual. Orang dari luar menyebutnya intelektualisme-transendental atau intelektualisme-religius, meskipun Kaum Muslim sendiri menyebutnya gerakan intelektual - itu saja - sebab intelektualitas dan intelektualisme Islam pastilah religius dan transendental."

"Dongeng kakek menjadi kering ...," sahut sang cucu.

"Itu iqra' namanya. Gerakan iqra', yang ketiga sesudah yang dilakukan oleh Muhammad dan kemudian para ilmuwan Islam yang kau ketahui menjadi sumber pengembangan kebudayaan barat."

Sang cucu tak memrotes lagi.

"Akan tetapi mereka, Kaum Muslim itu, adalah - kata Tuhan - orang-orang yang berselimut. Mudatstsirun. Orang-orang yang hidupnya diselimuti oleh berbagai kekuatan tak bismi rabbi dari luar dan dari dalam diri mereka sendiri.
Selimut itu membuat tubuh mereka terbungkus dan tak leluasa, membuat kaki dan tangan mereka sukar bergerak, serta membuat hidung mereka tak bisa bernafas dengan lega."

Sang cucu tersenyum.

"Kepada manusia dalam keadaan terselimut itulah Allah berfirman qum! Berdirilah.
Tegaklah. Mandirilah. Lepaskan diri dari ketergantungan dan ketertindihan. Untuk tiba ke tahap mandiri, seseorang harus keluar terlebih dahulu dari selimut. Ia tak akan bisa berdiri sendiri bila terus saja membiarkan diri terbungkus kaki tangannya serta terbungkam mulutnya."

Sang cucu tersenyum lebih lebar.

"Firman berikutnya adalah fa-andzir! Berilah peringatan. Lontarkan kritik, teguran, saran, anjuran. Ciptakan kekuatan untuk mengontrol segala sesuatu yang wajib dikontrol." - Sampai di sini Kiai Sudrun tiba-tiba tertawa cekikikan - "Syarat untuk sanggup memberi peringatan ialah kemampuan untuk mandiri. Syarat untuk mandiri ialah terlebih dahulu keluar dari selimut.
Namun pada masa itu, cucuku, betapa banyak nenek moyangmu yang tak memperhatikan syarat ini. Mereka melawan kekuasaan padahal belum bisa berdiri tegak. Mereka mencoba berdiri padahal masih terbungkus dalam selimut ... " - tertawa Kiai Sudrun makin menjadi-jadi.

Disusul kemudian oleh suara tertawa cucunya, "Kakek luar biasa!" katanya,
"Kakek memang cerdas luar biasa!"

"Apa maksudmu?" bertanya Kiai Sudrun di tengah derai tawanya.

"Kakek menirukan hampir persis segala yang kuceritakan kepada kakek tadi malam dari buku-buku kuliahku."

Mereka berdua tertawa terpingkal-pingkal.

(Emha Ainun Nadjib/1987/PadhangmBulanNetDok)

Hukum Malaikat Buntung, Hukum Iblis Beruntung

Hukum Malaikat Buntung, Hukum Iblis Beruntung

Seandainya dalam institusi negara kita pemerintah dan rakyat sudah sama-sama
sanggup melaksanakan ketaatan yang maksimal terhadap hukum, Anda masih boleh
tertawa-tawa geli menyaksikan sejumlah kepahitan di belakangnya.

Pertama, orang yang merasa nyaman dengan maksimalitas pelaksanaan hukum itu
adalah mereka yang merupakan bagian dari "masyarakat" hukum. Masyarakat hukum
adalah penghuni elite dari peradaban ’modern’, tepatnya masyarakat yang
merasa dan amat meyakini bahwa dirinya modern dan hidup di zaman yang
’terbaik’, yakni ’modern’.

Iseng-iseng saya pernah menemani 18 penduduk asli Pulau Waikiki, Hawai,
melakukan demo ke kantor gubernuran di negara bagian (Amerika Serikat) Hawai.
Mereka menuntut pengembalian Pulau Waikiki itu dari kepemilikan negara Serikat
Amerika kepada mereka.

Sejak ribuan tahun silam nenek moyang mereka bertempat tinggal dan
’memiliki’ pulau itu berdasarkan hukum mereka. Sekurang-kurangnya bertempat
tinggal (’jam terbang’) ribuan tahun di suatu hamparan tanah secara
filosofis hukum bisa dijadikan landasan untuk memungkinkan copyright mereka atas
tanah itu.

Tetapi, tuntutan mereka sangat menggelikan bagi akal sehat manusia modern,
sangat bodoh secara kebudayaan modern, dan sangat melawan ’hukum’ yang sudah
diberlakukan atas tanah itu, yakni ’hukum’ negara serikat Amerika.

Jadi mana yang benar?
Yang mana kebenaran sejati?

Apakah benarnya ’hukum’ modern itu benar sejati?
Penduduk asli Hawai itu bisa paralel dengan semua suku di Irian Jaya,
teman-teman Dayak di hutan-hutan Kalimantan, atau kelompok masyarakat mana pun
yang hidup di dunia beralamatkan di RW ’Sejarah’ RT ’Adat’. Sementara
pada suatu pagi mereka bangun tidur thilang-thileng mencari "Di mana tadi
sejarah saya? Adat saya". Kok tiba-tiba di luar pintu itu ada orang-orang
berseragam hendak mengursusnya tentang apa yang disebut "sejarah" baru, "adat"
baru, dan "hukum" baru.

Dalam konteks itu hukum modern adalah Dajjal bermata satu, bertangan satu,
bertelinga satu, berhati sebelah dan berakal terbelah (growak) di tengah-tengah.
Ribuan tahun orang Jawa menciptakan peradaban tempe dan pada suatu siang
tiba-tiba saja tempe adalah milik orang Jepang, berkat hukum modern. Setengah
mati orang Jogja, Solo, dan Pekalongan membanggakan budaya dan karya batik,
sampai mendadak mereka hampir stroke mendengar bahwa batik adalah hak patennya
Malaysia.

Sebuah pabrik kecap puluhan tahun sukses dan digemari konsumen, suatu hari
pimpinannya diseret ke pengadilan dan dipenjarakan, dituntut oleh salah seorang
karyawan yang membelot, membuat pabrik sendiri, mendaftarkannya ke lembaga hak
cipta- sementara pabrik aslinya tidak pernah mendaftarkan.

Insya Allah suatu hari nanti saya akan kehilangan nama karena ada teman yang
mendaftarkan Emha Ainun Nadjib sebagai hak cipta dia. Yang kasihan adalah Nabi
Muhammad, telanjur tidak sempat sowan mendaftarkan namanya, sehingga tunggu
saatnya beliau tak lagi diakui sebagai pemilik nama Muhammad. Yang repot kita
orang Islam, setiap membaca syahadat musti kasih royalti kepada pemegang hak
cipta nama Muhammad. Bayangkan, berapa duit harus kita siapkan untuk salat wajib
lima kali sehari saja. Belum lagi ditambah wirid dan shalawat.

Anda jangan lantas tidak salat demi menghindari kewajiban memberi royalti. Insya
Allah Tuhan juga mafhum atas kekurangan Anda. Sebab, Tuhan sendiri juga
berposisi sama dengan Muhammad dan Anda. Entah kapan Tuhan akan bertamu ke
kantor lembaga hak cipta untuk mendaftarkan paten nama Allah, Yehova, Sang Hyang
Wenang, dsb. Tentu butuh sangat banyak biaya. Andaikan Muhammad tidak telanjur
menjadi nabi terakhir, mungkin diperlukan wahyu baru yang menganjurkan agar umat
Islam ketika menyebut Allah dan Muhammad cukup dalam hati, demi menghindari
pemborosan royalti hak cipta.

Yang paling selamat adalah manusia yang celat atau pelat lidahnya, yang menyebut
Allah dengan Awwoh dan Muhammad dengan Mamad. Itu pun kalau Awwoh dan Mamad
belum didaftarkan ke lembaga hak cipta.


***
Ini sekadar iftitah, pembuka dari pembicaraan yang sangat mungkin bisa panjang
tentang kelucuan hukum. Anda pasti sangat cerdas memahami judul tulisan ini,
sesudah ala kadarnya membaca preambul ini.

Omong nasi musti omong beras, padi, tanah, daun, tanaman, angin, air, matahari,
musim, Tuhan dan terus terus teruuus sampai tak mungkin Anda menghindar dari
satu kata apa pun tatkala membicarakan satu kata yang lain. Hukum, fikih, moral,
akhlaq, takwa, mahabbah…. Teruuus sampai SBY-JK turun belum akan selesai kita
sebut kata demi kata, demi menguraikan sekadar satu kata.

Belum lagi kalau saya pancing dengan kalimat bahwa saya termasuk orang yang
tidak peduli hukum. Ada hukum atau tidak, saya tidak akan menyakiti manusia. Ada
KUHP atau tidak, saya tidak akan maling. Ada jaksa, hakim, atau tidak, saya
tidak akan mencekik anak tetangga. Ada polisi, pengacara atau tidak, saya tidak
akan memerkosa wanita maupun kambing betina dan apa siapa saja….
(Emha Ainun Nadjib/JawaPos/2007/PmBNetDok)

Raja, Ratu dan Buto

Raja, Ratu dan Buto

Adakah di antara Anda yang merasakan, menyadari atau setidaknya mengasumsikan
bahwa banyak hal yang sedang menjadi pengalaman kolektif masyarakat kita dewasa
ini—diam-diam ada kaitannya dengan idiom-idiom `raja', `ratu' dan `buto'?
Marilah sesekali berpikir jernih dan tolong kerahkan akal pikiran serta segala
spektrum keilmuan Anda untuk menjawab pertanyaan: apakah di penghujung abad 20
ini masih ada raja, ratu, atau buto?
Kalau kita berpikir formal, tak ada raja, apalagi ratu. Tapi kalau berpikir
substansial atau essensial: kita-kita ini adalah raja, adalah ratu, juga adalah
buto.
Kita mungkin raja atas bawahan-bawahan kita. Kita raja di rumah, di lingkungan
kantor, atau mungkin di mana saja kita berada. Sekurang-kurangnya kita secara
alamiah (dan diperkembangkan oleh tradisi pengalaman sosial) memiliki
potensialitas untuk cenderung menjadi `raja', yang sadar atau tak sadar, kita
terapkan di setiap kosmos keterlibatan sosial kita.
Kita cenderung merajai rumah tangga kita, merajai lingkungan pergaulan kita,
merajai segala aset di sekitar kita. Apalagi jika kita dibesarkan oleh suatu
lingkungan yang atmosfer perhubungan antar-manusianya bersifat feodalistik di
mana orang hanya memiliki dua kemungkinan: kalau di atas, menginjak; kalau di
bawah, menjilat atau mengemis.
Yang terbaik tentulah jika kita sanggup menjadi raja atas diri kita sendiri.
Kita menjadi raja atas segala urusan hidup kita. Kita menjadi raja yang
demokratis dan pensyukur atas segala kebaikan diri kita, kita menjadi raja yang
diktator atas segala keburukan diri kita.
Tetapi apa beda antara `raja' dengan `ratu' sesungguhnya? Sehingga tulisan ini
berjudul demikian?
Kalau membedakan antara raja dan ratu dengan buto, masih relatif agak gampang.
Buto, atau raksasa, tak pernah ada dalam kehidupan manusia, di bagian manapun
dari sejarah peradabannya. Buto atau raksasa hanyalah personifikasi dari salah
satu watak gelap manusia yang berpotensi anti kemanusiaan, antikebaikan,
anti kehalusan.
Rahwana digambarkan berbadan dan berwajah raksasa, karena ia lambang kejahatan.
Meskipun demikian, menurut masyarakat Srilanka, Rahwana bisa menjadi pahlawan
yang ganteng. Justru Prabu Rama itu imperialis, fasis, kolonialis, yang lebih
tepat untuk digambarkan berwajah buto.
Sebagaimana orang Blambangan dan Banyuwangi tidak mengakui gambaran Menakjinggo
yang oleh `sejarah versi Majapahit' digambarkan sebagai buto yang buruk wajah
maupun kelakuannya. Bagi mereka, justru raja-raja Majapahit yang raksasa, yang
menindas, yang menampakkan kehendak. Adapun Menakjinggo adalah pahlawan,
nasionalis Blambangan sejati, pejuang demokrasi, otonomi dan kemandirian
Blambangan atas imperialisme Majapahit.
Sunan Kalijaga mencoba merombak konsep paralelitas antara gambaran fisik dengan
watak, moral atau perilaku. Semar, Gareng, Petruk dan Bagong adalah
seburuk-buruk makhluk jika dipandang dari sudut performa. Tapi nurani mereka,
moral mereka, kasih sayang kemanusiaan mereka, pembelaan kerakyatan mereka, tak
ada yang menandingi.
Adapun bagaimanakah filosofi dan konsep budaya manusia modern kayak kita
sekarang ini? Apakah kesopanan seseorang, kenecisan penampilan seseorang, kostum
seseorang, identik dengan realitas per moralnya? Masihkah kita boleh terjebak
oleh surban, oleh performan kepriyayian, oleh peci, oleh gelar kiai, bahkan oleh
status kehajian seseorang?
Tetapi jangan mentang-mentang performa kekiaian atau kepriyayian tidak menjamin
moral dan perilaku sosial, lantas kita memitologisasikan performa yang lain:
bahwa yang baik pasti yang tidak pakai peci, pasti yang tidak bersurban dan tak
bergelar kiai. Mentang-mentang banyak penipu pakai sepatu dan dasi, lantas kita
anggap yang pakai sendal dan kaos oblong pasti baik. Kita tetap harus obyektif
dan sanggup menemu_kan relativitas dari simbol yang manapun. Relativisme kultur
harus diterapkan pada semua gejala lambang.
Kalau warna hijau, umpamanya, dilegalisir secara kultural untuk menyebut
kelompok `beragama', kita tidak lantas memastikan bahwa produk perilaku kelompok
ini tentu berkualitas kiai dan priyayi, tentu bermoral dan selalu berada di
pihak yang benar. Sebab bisa saja dari kaum hijau justru muncul rekayasa dan
perilaku ala buto atau raksasa yang menabrak apa saja dengan kasar, yang
meringkus apa saja dengan brutal, yang melegalisir `kudeta' ini dan itu,
mendongkel dadap dan waru, yang menggoyang dan menjatuhkan fulan dan polan.
Artinya, dalam hidup ini terutama dalam dunia gawat yang bernama politik: sangat
mungkin terjadi priyayi berperilaku buto, kiai bergerak secara raksasa.
Sebaliknya, dengan itu semua kita tidak lantas terjebak pada fenomena antitesis
yang juga kita dramatisir dan kita mitologisasikan. Misalnya bahwa kita langsung
menganggap bahwa yang non-hijau pasti yang benar, yang sopan, yang bermoral,
yang pro-demokrasi.
Kita sungguh-sungguh memerlukan kejernihan akal, hati yang sejuk dan jiwa yang
selapang-lapangnya, untuk mempersepsikan segala sesuatu yang hari-hari ini kita
baca di koran-koran dan kita tonton di teve dan kita dengar di radio maupun di
warung-warung.
Atau jangan lupa bisa juga ada raja yang benar-benar raja atau ratu yang
benar-benar ratu, namun ia dikelilingi oleh buto-buto. Segala akses informasi
yang diterima oleh telinga sang raja berasal dari buto-buto. Kepada raja
dikatakan "Paduka, mereka sudah tak suka sama si Waru, jadi sangat dibutuhkan
pergantian." Dan kepada `mereka' dikatakan, "He anak-anak, Paduka sudah tidak
berkenan lagi sama si Waru, jadi segera bikin kumpul untuk penggantian...."
Termasuk jangan lupa bahwa sesungguhnya para buto tidak senantiasa merupakan
makhluk yang benar-benar buto. Para priyayi, priyagung, kiai, atau apapun, yang
penuh sopan santun, yang tampak bermoral dan khusyu bisa pada momentum
tertentu terpaksa menjadi buto, untuk kepentingan tertentu yang harus
dilaksanakan secepat-cepatnya.
Oleh karena itu jika Anda sudah menjadi Ratu, pada saat yang diperlukan
bersikaplah segera menjadi Raja. Raja itu jelas kehendaknya, dawuhnya,
perintahnya, rancangannya. Kalau Ratu, cenderung diam karena anggun dan penuh
wibawa.
Ratu lebih banyak senyum-senyum saja. Namun kemudian yang berlangsung di seluruh
negeri adalah interpretasi para buto tertentu atas senyum sang Ratu. Kalau
interpretasi murni, masih lumayan. Tapi kalau interpretasi berdasar kepentingan
para buto, susahlah semua rakyat.

(Emha Ainun Nadjib/"Keranjang Sampah"/Zaituna/PmBNetDok)

Filosofi Penindasan

Filosofi Penindasan

Rakyat saya ini sungguh bandel. Sebagai pemimpin, sungguh saya tak pernah menyangka bahwa manusia bisa sedemikian mbanggel-nya. Susah benar mengatur mereka. Orang diajak bersatu saja kok sukarnya bukan main.

Mending mengurusi kambing atau sapi.

Bersatu itu 'kan enak. Alam dan kehidupan sudah memberi contoh sejak dulu.

Kalau cabe mau bersatu dengan terasi dan brambang, ditambah garam, kan jadi sambal yang nylekit. Apa sih keberatannya? Sekadar bersatu dengan terasi -- kok keberatan. Apa maunya hidup tanpa sambal?
Coba kalau berani: bikin undang-undang yang melarang sambal! Saya jamin akan terjadi revolusi.

Dan revolusi semacam itu belum tentu akan terjadi kalau alasannya adalah bukan sambal. Kalau yang jadi isu sekadar ketidakadilan sosial, konglomerasi yang berlebihan, kediktatoran politik atau masalah-masalah remeh yang semacamnya -- berani taruhan tak akan bisa membuat rakyat
bergerak.

Hanya sambal sajalah yang dijamin bisa menjadi sumber people power.

Ini adalah negeri sambal. Ini adalah masyarakat sambal. Ini adalah kebudayaan dan peradaban sambal.

Dan sekarang terbukti bahwa terutama di bidang politik, para aktivis jelas tidak mampu meniru persatuan sambal.

Jadi, saya ini sebagai pemimpin, benar-benar pusing kepala.

Entah kenapa Tuhan mencampakkan saya ke urusan-urusan di mana saya harus berhadapan dengan anak-anak kemarin sore yang naif-naif.

Saya ajak merawat persatuan dan kesatuan, rewelnya bukan main.
Saya kasih tawaran untuk memiliki kemuliaan jiwa, juga ogah-ogahan.

Misalnya, kaki mereka saya injak, lantas saya katakan: ''Damai ya? Kamu mau memafaatkan saya atau tidak? Memaafkan itu perbuatan luhur.
Tuhan saja banyak sifat pemaaf dan pengampunnya.

Tuhan itu ghofur, tawwab, 'afuwwu, ghofar dan lain-lain. Semua itu sifat pemaaf. Coba kamu pikir, Tuhan yang mahabesar dan tak butuh apa-apa saja bersedia memaafkan, kok kamu sok tidak mau memaafkan. Ayo! Mau memaafkan saya atau tidak! Kalau tidak, berarti kamu menentang saya!

Merongrong kewibawaan saya!'' Jadi, kalau saya menginjak kaki mereka, itu suatu metode pendidikan untuk melatih kebesaran jiwa mereka. Kalau saya menempeleng kepala mereka, itu untuk menguji keluasan hatinya. Kalau saya menendang seseorang sehingga terlempar jatuh dari kursinya dan ia lantas duduk di kursi bayangan, itu demi menatar keteguhan batinnya. Kalau saya rampok hartanya, saya gusur ladangnya atau saya ambrukkan rumahnya, itu semata-mata kaifiyah atau prosedur agar mereka mengembangkan kecerdasan ilmunya tentang keadilan dan kebenaran.Menguji keluasan hati, melatih kebesaran jiwa, mengembangkan ilmu dan meneguhkan akhlak, dan lain sebagainya -- adalah hal-hal yang merupakan inti ajaran Tuhan dan para nabi-Nya. Saya sekadar penerus, ahli waris.

Di sinilah letak kesalahpahaman rakyat saya. Maklumlah mereka memang masih bodoh-bodoh. Merdeka belum lama. Terlalu lama dijajah oleh Kumpeni dan sebelumnya ditindas oleh raja-raja sendiri. Jadi memang saya memerlukan tahap-tahap pembangunan dan pendidikan jangka panjang Puluhan tahun. Dan kalau saya boleh buka rahasia: saya tidak mau dinilai oleh Tuhan sebagai pemimpin yang tinggal gelanggang colong playu. Pemimpin yang lari dari tanggung jawab sebelum tugasnya mampu dibereskan dengan tuntas.

Tidak. Saya bukan tipe manusia yang pengecut dan betina. Sebelum tanggung jawab bisa saya penuhi sepenuhnya, saya tidak akan lari ke manapun. Saya akan tetap panggul tanggung jawab itu, sebagaimana para rasul dulu loro-lopo memanggul risalah mereka, meskipun disakiti, dilukai, difitnah, dirasani, dan disalahpahami.

Itulah beda antara saya dan kebanyakan pemimpin lain di dunia ini. Mereka pada umumnya melompat dari kursi amanat rakyatnya dan melarikan diri keluar dari balairung tanggungjawab nasionalnya, sebelum tugasnya dituntaskan. Beberapa tahun mereka sudah tak tahan dan angkat tangan.

Lantas turun dari jabatannya dengan meninggalkan problem-problem.
Dan problem-problem itu harus diselesaikan oleh para penggantinya. Para pemimpin baru yang menggantinya, yang tidak ikut menciptakan problem, harus susah payah mengatasinya.

Itu benar-benar suatu kecurangan sejarah.

Dan saya tidak. Sekali saya tegaskan: saya tidak! Saya tidak demikian. Saya bukan pengecut licik dan tengik. Saya, dengan saksi Allah, para malaikat dan segala lelembut -- akan dengan teguh memanggul tanggung jawab ini sampai titik darah penghabisan. Rawe-rawe rantas.
Malang-malang putung.

Tapi ya itu -- susah bener menyuruh rakyat untuk bersatu.

Masyaallah. Tetapi, namanya juga rakyat. Rakyat itu kanak-kanak abadi.

Susah diajak dewasa. Kalau anak kecil itu kemriyek, suka ribut dan suka berebut apa saja. Kalau orang dewasa bisa lebih tenang dan stabil jiwanya. Sungguh saya mendambakan kedewasaan rakyat. Maunya saya, mbok yang tenang-lah. Saya kasih makan apapun, usahakanlah tenang. Kalau saya kasih peraturan-peraturan, atau bahkan pun kalau saya sendiri melanggar peraturan yang saya bikin, berupayalah untuk tetap tenang.

Tujuan saya adalah memang menguji daya ketenangan dalam jiwa mereka.

Kalau saya menggusur, saya sekadar ingin tahu seberapa kadar kesabaran mereka. Kalau saya ambil makanan lebih banyak dibanding jumlah makanan mereka semua, itu wajar, karena saya memang pemimpin. Moso' pemimpin disuruh kelaparan! Kalau saya menentukan siapa Kepala Satgas, siapa Ketua Partai, siapa Pimpinan Organisasi, berapa hektar sawah untuk keluarga saya, dan lain sebagainya -- itu semata-mata untuk mendeteksi takaran sangka baik nasional mereka.
Rakyat saya harus dewasa, harus matang kepribadiannya, tidak gampang bersangka buruk, tidak gampang iri, dengki atau cemburu.

Misalnya sekali waktu, atau di banyak waktu, sengaja saya menerapkan perilaku yang penuh kemunafikan. Itu apa tujuan saya? Tak lain tak bukan adalah untuk mengetahui secara persis seberapa tinggi ketahanan mereka atas hal-hal yang buruk. Kalau saya sebarkan ketidakadilan, umpamanya, saya ingin mengerti seberapa kukuh hati mereka ditimpa oleh nasib buruk yang menyiksa. Sebagai pemimpin saya tidak mau punya rakyat yang cengeng, yang rewel dan sentimentil.
Mereka harus tetap tenang, damai dan bersatu, meskipun ditimpa ketidakadilan dan ketidakbenaran.

Mungkin terpaksa saya akan menuliskan semua filosofi ini dalam buku-buku.

Mungkin akan saya cicil sedikit demi sedikit melalui pidato-pidato, agar rakyat saya terdidik. Mungkin juga saya akan menciptakan semacam reportoar drama, entah monolog entah drama kolosal -- mengenai semua ini -- agar saya berlega hati menyaksikan rakyat saya berproses untuk dewasa dan penuh persatuan dan kesatuan. Kalau tidak, saya akan malu kepada dunia.

(Emha Ainun Nadjib/"Keranjang Sampah"/Republika/ PadhangmBulanNetDok)

Penjara sebagai Pertolongan Terendah

Penjara sebagai Pertolongan Terendah

Lia Aminudin akan masuk bui lagi. Saya bersangka baik ia tidak berniat jahat dengan “Jibril, Ruhul Kudus, Kerajaan Sorga, Imam Mahdi”-nya. Mungkin ia orang yang khilaf, tetapi tidak memiliki alat di dalam dirinya untuk memahami kekhilafannya.

Namun, software untuk memahami kekhilafannya itu juga mungkin tidak terdapat di luar dirinya: pada sistem nilai masyarakat dan hukum negaranya. Kita terkurung dalam kelemahan kolektif yang membuat kita bersikap over-defensif, amat mudah merasa terancam, bahkan ”sekadar” oleh Lia Aminudin dengan beberapa puluh pengikutnya.

Kita tidak terbiasa dengan demokrasi ilmu, pencakrawalaan wacana, ketangguhan mental sosial. Tak ada kematangan filosofi hukum, kedewasaan budaya, dan kedalaman nurani keagamaan, untuk sanggup meletakkan Lia beserta pengikutnya sebagai sesama hamba Allah yang perlu saling menemani.

Apa pun nama dan formulanya: partner dialog, dinamika ijtihad (jihad intelektual) maupun mujahadah (jihad spiritual) di tengah hamparan ilmu Allah yang amat sangat luas. Mungkin seseorang bisa bertanya kepadanya, ”Yang Ibu merasa jengkel sehingga ingin menghapuskan itu agama ataukah institusi agama?”

Ilmu dan peradaban diperluas oleh informasi dari agama dan pasal-pasal hukum adalah jalan terakhir dan terendah kualitasnya. Penjara adalah metode yang paling tidak bermutu untuk mencintai dan menemani masalah sesama manusia.

10-8-2 dan kontra-hidayah

Sekitar 15 tahun silam, Lia menemui saya. Ia sedang sibuk berdagang bunga kering. Ia merasa mendapat anugerah dari Allah, diizinkan bisa menyembuhkan banyak orang dari berbagai macam penyakit.

Kurang tepat sebenarnya menemui saya untuk menanyakan hal-hal tentang anugerah itu: apa benar dari Allah, bagaimana menyikapinya, apa yang harus dilakukan dan sebagainya. Saya tidak punya kredibilitas untuk mampu menjawab itu. Tetapi, wajib hormat tamu, saya jawab sekenanya. Allah yang bikin tamu datang, Ia juga yang siapkan fasilitas pelayanan.

Saya jawab, Allah kasih hidayah kepada siapa saja yang Ia maui. Ia titipkan berkah kepada orang yang rendah di pandangan kita, Ia simpan rahasia petunjuk-Nya kepada orang yang kita benci atau kita remehkan. Kita berlaku biasa-biasa saja, tidak tinggi tidak rendah, tidak hebat tidak konyol.

Waspada dan muthmainnah (tenteram) saja secara nurani, intelektual maupun spiritual. ”Mbak, kalau ke dalam jiwamu masuk pendaran 10 gelombang, kita waspadai bahwa yang dari Allah mungkin hanya 2, sedangkan yang 8 adalah godaan, antagonisme informasi atau kontra-hidayah, mungkin dari dajjal, jin, iblis atau energi liar yang bukan amr-nya Allah. Jadi Mbak Lia tolong hati-hati, jangan setiap yang muncul dianggap berasal dari Tuhan….”

Presidium jin Gunung Kawi

Kemudian ia dipinjami Allah kemampuan menolong banyak orang dari penyakitnya, termasuk penyair besar Rendra. Ia ke Padang Bulan, Jombang, seusai acara banyak anggota jemaah antre diobati olehnya. Paginya saya antar menyisir sebuah hutan di daerah timur Jatim. Setiap akan makan atau minum, ia bilang bahwa ia harus bertanya kepada Jibril sebaiknya makan di warung apa. Saya mengakomodasi keadaan itu dengan kesabaran yang saya ulur-ulur. Jibril terkadang milih rawon terkadang nasi padang.

Sepanjang Jombang-Bondowoso-Malang, ia memoderatori tantangan Jibril kepada saya untuk lomba puisi. Jibril bikin puisi, Mbak Lia menuturkannya, kemudian saya pun bikin puisi balasan, lantas Jibril balas lagi dan saya juga tancap lagi. Demikian seterusnya sampai berpuluh-puluh puisi. Kadar kepenyairan Jibril lumayan juga.

Malam, kami tiba di Gunung Kawi. Naik. Di suatu tempat ia berantem ama empat jin, Presidium Kepemimpinan Jin Gunung Kawi. Banting-membanting. Berguling-guling. Saya standby saja. Sepanjang ia tak terkena bahaya fisik serius, saya biarkan saja. Kalau sampai nanti jinnya ngawur dan ia terluka atau pingsan: sudah pasti saya tidak tinggal diam, saya pasti bertindak dengan teriak ”Tolooong! Tolooong!” dan mencari Polsek terdekat.

Bereslah Indonesia

Setelah itu kami belum pernah berjumpa lagi. Berita-berita tentang dia membahana. Masyarakat hanya punya pengetahuan dan bahasa tunggal: Lia meresahkan masyarakat. Pemerintah juga tak kalah liniernya: Lia tersangka dengan tuduhan penodaan agama dan penghasutan. Media massa juga tidak memiliki peta untuk mengerti narasumber yang compatible untuk kasus semacam ini. Kesamaan dari ketiganya adalah tidak ada yang ”menemani”, atau ”menyelamatkan”-nya.

Ia sempat kirim sms kepada saya tentang di dalam dirinya menyatu Imam Mahdi, Maryam, dan Jibril. Saya menjawab dengan penuh rasa syukur: Kalau begitu bereslah Indonesia. Tak perlu lagi pusing kepala memikirkan komplikasi permasalahan bangsa yang semakin majnun.

Kalau Imam Mahdi datang, yang terjadi pasti revolusi solusi, perubahan ultraradikal menuju perbaikan yang ajaib. Dengan Maryam, ibundanya Rasul Cinta, redalah segala kebrutalan politik, ekonomi, dan budaya. Bahkan, bisa seperti pegadaian nasional: mengatasi masalah tanpa masalah. ”Tetapi, kalau perubahan itu tak terjadi, berarti bukan Jibril, Maryam, dan Imam Mahdi lho Mbak…”

Dan, last but not least, kalau Malaikat Jibril yang berkiprah di Indonesia: Polri jangan coba-coba berurusan dengan beliau. Rumah penjara jangan bangga mengurungnya. Karena Jibril itu makhluk nonmateri, bahkan bukan sekadar makhluk-frekuensi: Jibril adalah sebagian output dari Ilmu Cahaya yang dahsyat, yang Einstein keserempet sedikit—meski beliau mandek tak sampai ke Ufuk Penghabisan, Sidratul Muntaha, di mana ”Cahaya Terpuji” (Nur Muhammad) terpaksa meninggalkannya untuk bertatap wajah langsung dengan Tuhan.

Jibril tak bisa dikurung di Cipinang, bahkan tak juga bisa dihadang oleh hukum ruang dan waktu. Tetapi, sekurang-kurangnya, jika ia masuk bui lagi, bersama napi lain bisa bikin Majlis Ta’lim khusus mempelajari sejarah dan epistemologi: dilacak dengan saksama apa sih sebenarnya ”wahyu”, bedanya apa dengan hidayah, ilham, ma’unah, fadhilah, karomah. Apa gerangan ”mukjizat”, ”Ruh al-Quddus”, ”Adn”, ”Din”, ”Agama”, dan sebagainya. Supaya kalau ada rasa manis hinggap di lidah, tidak langsung bilang itu gula.

(Emha Ainun Nadjib/KOMPAS/20 Desember 2008/PadhangmBulanNetDok)

KONSUMERISME : Ular-ular Sihir Yang Dilawan Musa

KONSUMERISME : Ular-ular Sihir Yang Dilawan Musa

Konsumerisme ialah keadaan di mana mekanisme konsumsi sudah menjadi bagian yang substansial dari kehidupan manusia. 'Bagian substansial' maksudnya bagian kehidupan yang seolah-olah dianggap 'wajib' atau tidak lagi ditinggalkan. Jadi, konsumsi sudah menjadi 'isme', sudah menjadi atau berlaku sebagai semacam 'agama'.
Keberlangsungan konsumerisme ditentukan ketika nilai dan potensi kreativitas manusia atau masyarakat dikapitalisir, dijadikan alat pemenuhan kebutuhan yang dijualbelikan.
Konsumerisme sesungguhnya sekaligus merupakan kasus ekonomi, kasus budaya, bahkan bisa dilatari atau ditujukan untuk proses-proses politik. Oleh karena itu konsumerisme sebenamya bisa memiliki sisi yang bermacam-macam: ada konsumerisme dalam bidang pendidikan (sebutlah umpamanya 'konsumerisme etos-etos akademik'), ada konsumerisme terkandung dalam alam kehidupan beragama (umpamanya ummat menuntut mubaligh tertentu yang bisa memenuhi selera budaya mereka berdasarkan situasi sejarah), serta ada berbagai sisi konsumerisme yang lain.
Kita bisa memahami konsumerisme dari bermacam cara pendekatan. Narnun tidak aneh sama sekali, bahwa Al-Qur'an sejak semula telah menyediakan semacam cara pandang atau metoda untuk memahaminya.
Misalnya, dalam konflik terbuka antara Musa melawan Fir'aun yang didampingi oleh para sihir bayarannya, diakhiri dengan "duel kekuatan" antara mereka. Lihatlah Surah Thaahaa ayat 65 hingga 69 saja.
Para penyihir sewaan Fir'aun berkata, "Wahai Musa! engkaulah yang terlebih dahulu melemparkan, ataukah kami?"
Musa menjawab, "Silahkan kamu sekalian melemparkan!" Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat para penyihir itu - terbayang pada mata Musa menjadi ular-ular kecil yang amat banyak, merayap-rayap ke segala penjuru.

Sehingga Musa merasa takut di dalam hatinya.
Kami (Allah) berkata: "Janganlah kamu takut, karena sesungguhnya kamulah yang lebih unggul". Lebih benar, mulia.
"Dan lemparlah apa yang ada ditangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa saja yang mereka perbuat.

Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah merupakan tipu daya sihir belaka. Dan itu tidak akan menang, dari mana pun, mereka datang".
Allah Maha Mengerti segala isi waktu. Konteks cerita mengenai Nabi Musa as. Itu tidak terbatas pada situasisituasi kejahiliyahan jarnan Fir'aun: ia tidak mustahil berlaku bagi keadaan-keadaan lain di kurun waktu kapan pun, sebelum atau sesudah Fir'aun. Ia juga bisa berlaku pada diri kita hari ini: karena bukankah bahkan seringkali kita menjurnpai diri sedang harus belajar "menyebut nama-nama benda" seperti Adam as, yakni ketika kita harus membenahi kembali pengertian-pengertian kita tentang nilai, alam, benda, dan segala apapun dalam kehidupan kita?
Dan siapakah gerangan Fir'aun? Apakah ia seorang raja yang hidup di abad 20 ini? Apakah ia suatu konspirasi ekonomi dan bahkan konspirasi politik yang memakai perdagangan kebudayaannya untuk menyihir golongan-golongan manusia di muka bumi yang memang hendak mereka jebak dan mereka telan dalam kekuasaannya? Jadi, pertanyaannya apakah Fir'aun itu semacam Modal besar? Kekuatan atau klik, jaringan ekonomi? Atau metode iklan-iklannya?
Dan kemudian yang amat penting ialah siapa gerangan yang sekarang 'wajib' berperan sebagai Musa. Serta pertanyaan tentang apa yang tergenggam di tangan kanannya
Bagaimana menjelaskan secara empirik, pada kasus-kasus modem dewasa ini bahwa "apa yang mereka perbuat itu tidak lain hanyalah tipu muslihat daya sihir belaka". Mengapa Allah meyakinkan kepada kita, atau kepada Musa-musa, bahwa yang tergenggam di tangan kanan kita ini adalah sesuatu yang "lebih unggul", lebih tinggi, lebih mulia, lebih luhur. Dengan perspektif kefilsafatan macam apa kita menguraikannya, atau
dengan tata aqidah keagamaan yang mana hal tersebut bisa kita pahami.
Kemudian akhimya yang paling menjadi adalah konfirmasi dari Allah bahwa "Musa pasti menang", bahwa "sihir-sihir mereka itu tidak akan menang, dari manapun datangnya". 'Dari mana pun' itu bisa jugakah berarti pusat-pusat penjualan film biru, producer-produser kaset yang melemahkan mental masyarakat, kantor-kantor berita yang memanipulir kenyataan, pusat-pusat modal dan sebagainya?
Haqul yaqin, daya giro' ah (membaca realitas) Anda;daya ro'iyah (kepemimpinan) Anda, membimbing Anda semua untuk mengetahui secara jelas, luas dan mendalam jawaba-jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas. Ada pun yang sernpat tertuliskan di sini, hanyaiah salah satu kemungkinan syuuraa bainahum di tengah berbagai ilmu yang diperoleh sendiri oleh sekalian Kaum Muslimin, Insya Allah demikian.

Apa gerangan sihir itu?
Misalnya, kita mulai memahaminya dengan kembali melihat-lihat dan meneliti barang-barang yang kita miliki, barang kita pakai atau yang tersimpan di dalam rumah kita. Dalam penelitian itu kita ukur, umpamanya, mana benda yang memang wajib kita beli dan wajib kita memiliki. Mana yang sunnah. Mana yang "sekadar" halal saja. Mana yang makruh, bahkan akhirnya mana yang haram.
Landasan kriterianva bisa bermacam-macam. Ambil saa misalnya "kuluuwasyrobuu, wa laa tusrifuu" ("Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan"). Sebiji kelebihan, akan memiliki sifat mubadzir, dan "Innal mubadzdziriina kaanuu ikhwaaanasysyayaathiin ..." Karena kemubadziran itu sahabat setan, dan kata Allah, setan itu kufur terhadap Tuhannya.
Kualifikasi penilaian itu bisa kita perkuat dengan pemahaman terhadap konteks yang lebih makro dan memperhitungkan sistem hubungan sosial yang luas. Umpamanya, kalau kita tahu bahwa mayoritas saudara;audara kita masih berada di garis kemiskinan, maka seberapa layak atau seberapa halal kita membeli sesuatu yang kira-kira bersifat ironik dan tidak etis dihubungkan dengan kemiskinan saudara-saudara kita itu.

Bandung, 19 Mei 1983
(Emha Ainun Nadjib/ "Nasionalisme Muhammad" - Islam Menyongsong Masa Depan / Sipress/1995/PadhangmBulanNetDok

Orang Maiyah dan Gerbang Ghaib

Orang Maiyah dan Gerbang Ghaib

Kepada Mujahidin Mujtahidin Maiyah Dari Muhammad Ainun Nadjib

Bismillah-ir-Rahman-ir-Rahim

Subhanallah

1. Maiyah bukan karya saya, bukan ajaran saya dan bukan milik saya.

2. Orang-orang Maiyah bukan santri saya, bukan murid saya, bukan anak buah, makmum, jamaah atau ummat saya.

3. Setiap hamba Allah memiliki hak privacy untuk berhadapan dengan Tuhannya, tanpa dicampuri, digurui atau diganggu oleh makhluk apapun, terlebih lebih lagi saya.

4. Saya tidak berani, tidak bersedia dan tidak mampu berada di antara hamba dengan Tuhannya.

5. Saya tidak boleh meninggikan suara melebihi suara Nabi, apalagi meninggikan suara melebihi Tuhan.

6. Saya tidak boleh lebih dikenal oleh siapapun melebihi pengenalannya kepada Nabi, apalagi Tuhan.

7. Saya wajib menghindari kemasyhuran yang membuat orang lebih memperhatikan saya, lebih dari kadar perhatiannya kepada Allah dan Nabi.

8. Saya wajib menolak kedekatan siapapun kepada saya melebihi kedekatannya kepada Nabi dan terutama kedekatannya kepada Tuhan.

9. Saya tidak boleh mendengarkan siapapun dan apapun melebihi pendengaran saya kepada Allah dan Nabi, kecuali suara siapapun dan apapun itu saya gali kandungan suara Allah dan Nabi.

10. Saya tidak boleh mengucapkan dan melakukan apapun kepada siapapun kecuali mengantarkan atau mengakselerasikan ucapan dan tindakan Allah dan Nabi.

11. 12 13 14 15 sampai tak terhingga.

Wa-lhamdulillah

1. Maiyah itu sama sekali bukan Agama, apalagi Agama baru, serta tidak pernah saya maksudkan sebagai suatu aliran teologi atau madzhab.

2. Maiyah tidak pernah saya niati untuk menjadi kelompok thariqat, sekte peribadatan, apalagi organisasi massa, terlebih lagi lembaga politik atau jenis institusi sosial apapun.

3. Namun demikian saya tidak berposisi untuk memiliki hak apapun untuk mengharuskan atau melarang Maiyah menjadi apapun, karena Maiyah mempersyarati dan dipersyarati oleh nilai-nilainya sendiri.

4. Di dalam diri saya Maiyah saya niati menjauh dari mempersaingkan diri dengan gerakan sosial, kemanusiaan, intelektual atau spiritual apapun, tidak merebut apapun dan tidak berkehendak menguasai apapun di dalam kehidupan bermasyarakat atau bernegara.

5. Maiyah itu upaya setiap pelakunya, sendiri-sendiri atau bersama-sama, untuk mencari dan menemukan ketepatan posisi dan keadilan hubungannya dengan Tuhan, sesama makhluk, alam semesta dan dirinya sendiri.

6. Pencarian itu bisa dilakukan setiap Orang Maiyah di dalam kesendiriannya, bisa dengan berkumpul secara berkala, dengan berbagai jalan ijtihad ilmu, berbagai cara budaya, berbagai alat teknologi sosial, berbagai perangkat jasad dan batin, dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

7. Pencarian dan penemuan itu berlangsung dinamis, mandiri, dialogis, tidak ada ujung jalannya, tidak ada batas ruangnya, tidak ada disain dan target waktunya, sebab seluruhnya itu adalah perjalanan kerinduan kepada yang sejati dan abadi.

8. Setiap Orang Maiyah mencari, menemukan atau menyadari adanya garis nilai antara dirinya dengan Tuhan dengan semua struktur sunnah-Nya, dengan sesama manusia dan makhluk dengan semua tatanan dan regulasinya, serta dengan jagat raya dengan semua habitat, dzat dan habitatnya.

9. Setiap Orang Maiyah memiliki hak sementara dan bersifat pinjaman dari Sang Pemilik Sejati untuk berhenti di suatu koordinat sejarah dan membangun Maiyah sebagai ‘kata benda’, tetapi kata benda itu tetap merupakan titik beku dari ‘kata kerja’ kehidupan yang sesungguhnya tak pernah ada ‘waqaf’nya.

10. Setiap Orang Maiyah menghimpun warisan nilai dan perilaku Maiyah kepada para akselerator hidupnya hingga anak cucu keseribu, namun sesungguhnya para akselerator bukanlah pihak yang secara pasif mewarisi, karena sampai kapanpun setiap Orang Maiyah adalah pewaris yang mewarisi, sebagaimana setiap mereka adalah yang mewarisi dan kemudian mewariskan.

11. 12 13 14 15 sampai tak terhingga.

Wa La Ilaha Ill-Allah

1. Maiyah itu dinamika tafsir tanpa ujung, sehingga tidak ada pertanyaan ‘Apa itu Maiyah’ yang bersifat baku dan beku. Meskipun bisa ada ‘regulasi’ tertentu yang berlaku pada ruang dan waktu tertentu dengan disain nilai tertentu, namun ia hanya sebuah titik, yang disusul oleh titik demi titik berikutnya menuju keabadian.

2. Mengislamkan diri menurut cara berpikir Maiyah adalah perjuangan mengidentifikasi diri, menemukan dan mengukuhkan posisinya untuk mengerahkan seluruh urusan hidupnya agar bergabung ke dalam keabadian dan kesejatian Allah.

3. Mengabadikan dan mensejatikan hidup adalah di mana jasad, rumah, keluarga, uang, harta benda, kota dan gedung-gedung, desa dan sawah ladang, semua perangkat pekerjaan, segala faktor sosial, Negara atau Kerajaan, kebudayaan dan peradaban, dilaksanakan dengan upaya penyesuaian yang terus menerus dengan kehendak Allah.

4. Manusia bukan hanya tidak mungkin menolak keabadian, tapi afdhal mencari dan menempuhnya, sebagai satu-satunya jalan di dalam kehidupan, sebab keberadaannya berasal dari Yang Maha Abadi dan sedang pasti menuju kembali kepada Yang Maha Abadi. Semua makhluk tidak mungkin menolaknya karena tidak ada wilayah lain kecuali keabadian Allah.

5. Metoda Maiyah yang paling prinsipil untuk menempuh jalan keabadian adalah selalu memastikan setiap urusan agar berpihak, memasuki dan bergabung di dalam kesejatian. Cara yang dialektis untuk memahami kesejatian adalah mencari perbedaannya, jaraknya, intervalnya, dengan kepalsuan.

6. Kesejatian dan kepalsuan mengartikulasikan dirinya dalam wujud-wujud yang bermacam-macam, mengacu kepada ranah dan konteksnya. Ada kesejatian dan kepalsuan moral, mental, intelektual, spiritual, juga dalam konteks-konteks aplikasi budaya, ekonomi, politik, hukum dan apapun saja yang diperjanjikan oleh komunitas manusia untuk menjadi idiomatik managemen dan komunikasi di antara mereka.

7. Bahkan bagi para pembelajar jagat jasad, ilmu fisika, matematika, biologi, kimia, sampai ke ilmu-ilmu murni, termasuk para pembelajar ruh, sifat, dzat, hingga DNA, proton electron neutron, fermion, bozon, quark dst insyaallah terkuak semakin benderang di pandangannya interval antara kesejatian dengan kepalsuan.

8. Tidak ada apapun, makhluk hidup atau makhluk tidak hidup, jasad dan jiwa, benda dan peristiwa, kwantitas dan kwalitas, hutan atau taman, nomaden atau kapitalisme, koteka atau demokrasi, apapun saja siapapun saja, yang berada di luar wilayah akselerasi replikasi dari Allah, yang pada akhirnya juga tak menemukan ruang dan waktu, atau yang non-ruang dan non-waktu, yang tak tiba kembali di pangkuan Tuhan.

9. Peradaban ummat manusia ini sampai ke apapun, siapapun, di manapun, kenapapun, kapanpun, dan bagaimanapun, tidak merdeka dari gagasan Allah, ide-Nya, aspirasi-Nya, model-Nya, replikasi-Nya, prototype-Nya, nuansa-Nya, sebab memang hanya Ia satu-satunya Yang Maha Sejati dan Maha Abadi.

10. Orang Maiyah menemukan bahwa kehidupan ummat manusia itu sangat mengalami kegagalan replikasi dari Tuhan ke peradabannya, sehingga yang sanggup dibangun adalah manusia cacat, masyarakat cacat, Negara cacat, pemerintahan cacat, hati cacat, akal cacat, mental cacat, moral cacat. Orang Maiyah berkumpul dan bekerjasama untuk menggali ilmu, mentradisikan pelatihan dan lelaku hidup untuk mengurangi kecacatan diri mereka, serta menghindarkan diri dari melahirkan dan mendidik anak-anak cucu-cucu cacat.

11. 12 13 14 15 sampai tak terhingga.

Allahu Akbar

1. Kalau Bangsa dan Negaranya tidak memperhatikan dan tidak memperdulikan nilai Maiyah, perilaku Maiyah, gelombang Maiyah dan Orang Maiyah, maka Orang maiyah tidak terbebas oleh nilai Maiyah dari kewajiban Maiyah untuk memperhatikan Bangsa dan Negaranya.

2. Kalau Bangsa dan Negaranya tidak mengandalkan nilai Maiyah, perilaku Maiyah, gelombang Maiyah dan Orang Maiyah, untuk membangun kehidupannya dan menyembuhkan penyakitnya, maka Orang Maiyah tetap menggali segala sesuatu dari Bangsa dan Negaranya yang masih bisa diandalkan, serta tidak berputus asa untuk terus membangun kehidupan serta menyembuhkan penyakit Bangsa dan Negaranya, dalam skala, kapasitas dan kwalitas yang bisa dijangkaunya.

3. Kalau Bangsa dan Negaranya melecehkan, merendahkan dan memperhinakan nilai Maiyah, perilaku Maiyah, gelombang Maiyah dan Orang Maiyah, maka Orang Maiyah mengerti tidak ada perlunya memberikan hal yang sama, karena makhluk receh remeh dan hina sudah receh remeh hina tanpa diper-receh-kan diper-remeh-kan dan diperhinakan.

4. Kalau nilai Maiyah, perilaku Maiyah, gelombang Maiyah dan Orang Maiyah, tidak dihitung oleh siapapun sebagai sesuatu yang potensial dan aplikatif untuk berbagai keperluan urgen Bangsa dan Negaranya, maka Orang Maiyah tidak kehilangan tempatnya dalam sejarah, karena Maiyah tetap mereka andalkan untuk pembangunan kesejahteraan masa depan dirinya sendiri, keluarga-keluarganya dan selingkup persaudaraan di antara mereka.

5. Di dalam kehidupan dirinya, keluarganya, masyarakatnya, Bangsa dan Negaranya, Orang Maiyah tekun mencari, menemukan dan mempelajari “La ilaha” yang sangat penuh tipuan dan fatamorga, sehingga atau karena atau maka mereka sangat merindukan perkenan Allah untuk memasuki “Illallah” yang sangat indah, sejati dan abadi.

6. Di dalam diri Orang Maiyah selalu berlangsung konsentrasi untuk menemukan segala sesuatu yang ‘tidak’ dan yang ‘ya’ berdasarkan pandangan Tuhan. Konsentrasi berikutnya adalah secara radikal atau sedikit demi sedikit menghilangkan segala yang ‘tidak’ itu dan memasukkan segala yang ‘ya’ menurut peta ilmu dan kehendak Tuhan.

7. Diri Orang Maiyah tidak terbatas pada diri pribadinya sendiri melainkan diri yang lebih besar: keluarganya, anak istrinya, sanak familinya, rekan-rekan sepersaudaraannya, serta lingkup yang lebih luas yang berada dalam skala tanggung jawab kehidupannya berdasarkan pandangan Tuhan mengenai kehidupan bersama dalam rahmat untuk seluruh alam semesta dengan segala isinya.

8. Sampai batas tertentu yang dinamis dan relatif, perikehidupan masyarakat dan Bangsanya bisa juga termasuk lingkup tanggungjawab eksistensi kemakhlukannya. Akan tetapi Orang Maiyah tidak bertinggi hati untuk meletakkan diri sebagai penyelamat Bangsa dan Negaranya, melainkan berendah hati dan sangat menahan diri untuk berbuat di skala luas itu sejauh ada kepatutan bersama dan keridlaan satu sama lain.

9. Orang Maiyah selalu mengupayakan dan mendoakan Bangsa dan Negaranya agar dituntun Allah dalam menapakkan kaki menyongsong Gerbang Ghaib yang sangat dekat di depan mata kehidupan mereka. Semoga doa Orang Maiyah bagi sangat banyak orang yang belum tentu mencintai mereka dan belum tentu memerlukan upaya dan doa mereka, diperkenankan oleh Allah menjadi perahu ‘izzatullah penampung dan pengayom keluarga-keluarga Maiyah setelah tiba di Gerbang Ghaib iradah Allah itu.

10. Innallaha Balighu amri-Hi, qad ja’alallahu likulli syai-in Qadra.

11. 12 13 14 15 sampai tak terhingga.

Wa la haula wa la quwwata illa billahil’aliyyil ‘adhim.

Kadipiro 25 Desember 2009.

Muhammad Ainun Nadjib
(www.kenduricinta.com/PadhangmBulanNetDok)

Metode Iqra' untuk Konsolidasi Strategis

Metode Iqra' untuk Konsolidasi Strategis

Konsolidasi Idiil
Apakah kita pernah berpikir sungguh-sungguh, bahwa metode-metode iqra' sanggup kita tumbuhkan dan diperkembangkan, sehingga kita tidak terlampau bertele-tele menemukan perspektif dan sistematika keilmuan Islam yang sesungguhnya demikian gamblang dipaparkan secara substansial dan metodologis oleh dialektika tiga informasi dari Allah yaitu : alam semesta, kehidupan manusia dan Al Qur'an. Dengan demikian kelak mubaligh kita sanggup menemukan relevansi dan integritasnya terhadap kewaji)an-kewajiban mengkhalifahi konsep dan terapan rahmatan lil'alamin. Pada saat itu nanti, saya tidak akan terlalu sibuk menjadi mubaligh darurat seperti pekerjaan saya hari ini.
Amat sayang bahwa Kaum Muslimin belum sungguh-sungguh terdidik dan dibesarkan oleh kebiasaan metodologis dan memakai terminologi keilmuan Islam. Kita disusun oleh mono aspek tradisi syariat, sedangkan untuk segi-segi keilmuan kita digurui oleh 'orang asing' yang pada tingkat tertentu justru telah mencapai tingkat yang secara otomatis terbimbing oleh Islam, betapapun belum secara sadar memahami (apa yang kita sebut) perspektif 'arsyyah dan kaffah. Karena kita dididik oleh kurikulum keilmuan yang bukan saja belum universal, apalagi kosmis, melainkan masih duniawi. (Sangat susah dipahami) mungkin justru kita masih jahiliyah.
Keilmuan kosmis ialah suatu konsep historism yang melihat segala urusan kehidupan berpangkal dari Allah dan berujung di Allah, yang tawadlu terhadap supra-waktu dan meta-ruang. Selama ini tidaklah demikian cakrawala kita dalam mencari dan menentukan batas intelektualitas, filsafat, ideologi, serta kemudian sistem-sisitem nilai. Kita menyelenggarakan negara, tata komunitas, sistem perekonomian, cara berpolitik,
yang bersifat provinsialis dan fragmentaris, jauh dari tawadlu dalam kosmos ('arsy 'adhim). Dalam keadaan seperti itu maka peradaban kita hanya dipenuhi oleh bentrok antar subyektivisme yang bukan saja riya' atau sombong, namun juga bodoh. Kalau tiba di hari peringatan Isra' Mi'raj, kita mengandalkan keyakinan buta, atau diam-diam memendam ketidakpahaman ilmiah atasnya serta kekeroposan iman.
Padahal setiap manusia sesungguhnya menjalani Islam, itu tidak bisa dihindari (tak bisa tidak). Di tahap natural, tanaman bertumbuh dan manusia menjadi pembesar, dalam interaksi manusia dan tetumbuhan yang dimaksud sesungguhnya sedang untuk menjalani Islam. Manusia terikat oleh sunnatuilah, ia tidak sanggup untuk tak mengIslam. Tetumbuhan memeluk Islam hingga daun-daunnya gugur : ia menglslam boleh tanpa
belajar. Namun manusia harus melewati tahap menjadi khalifah. Nah, disitulah terjadi friksi, yang satu merasa Muslim lainnya merasa anti Islam. Di situ banyak orang anti Islam yang sukses mengembarai sebagian cakrawala Islam (gairah ilmu pengetahuan, pencapaian teknologi); di situ banyak orang merasa Islam yang sesungguhnya buta huruf terhadap 'arsy Islam, baik dalam ilmu kerohanian, teologi, filsafat, etika maupun keilmuan teknik sehari-hari.
Contoh elementernya pada pandangan kita terhadap syariat.
- Kita hanya tahu syariat sebagai hanya aspek normatif. Kita melakukan sholat, umpamanya hanya dalam konteks kepatuhan akan aturan. Kita tidak mencari ilmu dalam bersholat, kita gagal menyentuh aspek kreatif dan rekreatif dad pekerjaan sholat. Tidak heran kalau sholat kita tidak kunjung tanha 'anil fakhsya wal-munkar
- Demikian juga, selain sholat (air), kita tak pemah menekuni zakat (susu), puasa (khamr) atau haji (madu) sebagai buku besar ilmu pengetahuan. Pada-hal ilmu pengetahuan di rahim syariat adalah 'kendaraan' terpenting yang membawa kita ke rumah Allah. Tak heran kalau pekerjaan Haji tidak merupakan puncak tahapan ilmu dan proses spiritual orang Muslim.
- Tak heran pula kalau orang Islam pada umumnya merasa asing terhadap terminologi keilmuan Islam elementer : Syariat, hakikat, tarikat dan makrifat. Saya belum pernah mendengar para pakar, ulama atau cendekiawan Muslim kita mengungkapkan hasil renungan, tajribah, reinterpretasi dan repersepsi terhadap terminologi yang semestinya merupakan makanan sehari-hari Ka um Muslimin tersebut
- Lebih jarang terdengar lagi kegairahan kita terhadap beribu 'amtsal' dalam Qur'an yang penuh cahaya. Qur'an lebih sering diperdengarkan sebagai pengukuh egoisme kekuasaan atau kepentingan kapitalisasi kehidupan.
- Dengan demikian kita masih memerlukan waktu panjang dan ketelatenan untuk menemukan benang merah dari apa yang disebut sebagai "masyarakat ilmiah yang agamis",. Kalau term ini berangkat dari apa yang di atas saya sebut peta parsial dan fragmentaris, maka tentu amat jauh berbe-da dengan apa yang sesungguhnya ditawarkan oleh 'arsy Islam; seperti perbedaan antara sebuah planet dengan peta galaksi maha galaksi.

Sebuah Tawaran
1. Memperlebar pintu dan kewenangan berijtihad
2. Reinternalisasi syariat
3. Melembagakan zawiyyah di masjid-masjid sebagai laboratorium kreativitas keilmuan
4. Merubah psikologism-khilafiyah menjadi kerjasama pencarian ilmu
5. Memulai secara serius penggunaan AlQur'an sebagai kepustakaan utama.

Yogya, Minggu 5 Maret
(Emha Ainun Nadjib/ "Nasionalisme Muhammad" - Islam Menyongsong Masa Depan / Sipress / 1995 / PadhangmBulanNetDok)